Wamen UMKM Tinjau Pengembangan Kawasan Pedestrian Jodoh Batam
Batam – Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Helvi Yuni Moraza, meninjau kawasan pertokoan Jodoh di Kota Batam, Kepulauan Riau, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan belanja berkonsep pedestrian atau ramah pejalan kaki.
Penataan kawasan tersebut direncanakan tetap mempertahankan aktivitas pedagang yang telah ada, namun dengan pengelolaan yang lebih rapi dan terintegrasi sebagai pusat UMKM dan ekonomi kreatif. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kawasan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha lokal.
“Konsep kawasan belanja pedestrian di Batam diharapkan tetap mempertahankan aktivitas pedagang yang ada, namun ditata agar lebih rapi. Ke depan akan kami arahkan menjadi pusat UMKM dan ekonomi kreatif,” ujar Helvi saat meninjau lokasi, Jumat.
Menurut Helvi, pengembangan kawasan tersebut berpotensi memperkuat posisi Batam sebagai destinasi wisata belanja, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Penataan tidak hanya difokuskan pada aspek fisik, tetapi juga pada keberlanjutan usaha para pelaku UMKM.
“Ini bukan sekadar penataan kawasan, tetapi bagaimana menciptakan ruang bagi UMKM agar bisa tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. UMKM itu bukan hanya kaki lima, ruko juga merupakan bagian dari UMKM,” jelasnya.
Helvi juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), khususnya Bank Rakyat Indonesia (BRI), dalam mendukung pembiayaan serta pembinaan UMKM. Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan fasilitas pembiayaan mikro, termasuk untuk sektor kuliner hingga Rp15 juta per pelaku usaha.
Selain dukungan pembiayaan, penataan kawasan juga akan memperhatikan nilai sejarah dan heritage setempat. Konsep pengembangan dirancang tanpa merobohkan situs-situs penting agar identitas kawasan tetap terjaga.
Sementara itu, Deputi Infrastruktur Badan Pengusahaan Batam, Mouris Limanto, menyebutkan kawasan pedestrian tersebut nantinya akan menampung berbagai segmen UMKM melalui sistem zonasi, mulai dari kuliner, fesyen, hingga produk oleh-oleh.
“Seluruhnya akan ditata dalam satu kawasan pedestrian. Saat ini masih dalam tahap kajian, termasuk terkait anggaran dan waktu pelaksanaan,” ujarnya.