BATAM — Pemkot Batam mematangkan rencana pembangunan infrastruktur strategis berupa tiga jalan lingkar yang tersebar di sejumlah kawasan. Proyek yang mencakup Lingkar Selatan, Lingkar Utara, dan Lingkar Tengah ini digadang-gadang menjadi tulang punggung baru pergerakan orang dan barang di kota industri tersebut.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyebut pembangunan ini merupakan bagian dari persiapan infrastruktur jangka panjang. "Kita ingin pembangunan jalan tidak hanya berorientasi pada membuka akses, tetapi juga membangun konektivitas antar kawasan. Jalan lingkar ini menjadi bagian dari upaya kita menyiapkan infrastruktur Batam untuk kebutuhan masyarakat dan perkembangan kota ke depan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Kamis.
Dari data Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Batam, Lingkar Selatan menjadi ruas dengan nilai investasi paling kecil. Jalan sepanjang 10,075 kilometer ini dianggarkan sekitar Rp183,32 miliar.
Trase Lingkar Selatan bakal menghubungkan Simpang Sei Pancur menuju Simpang Kampung Bagan, kemudian menyusuri Waduk Duriangkang. Jalur ini juga mencakup jembatan di sisi laut Waduk Duriangkang hingga berakhir di Simpang Bumi Perkemahan.
Sementara itu, Lingkar Utara direncanakan membentang lebih panjang, yakni 14,508 kilometer dengan estimasi biaya Rp260,42 miliar. Rute ini dirancang melalui titik-titik strategis seperti Simpang Golden Prawn, kawasan Bundaran Ocarina, Gedung Sumatera, Central Boulevard, Botania Garden, hingga Simpang Kaveling Sambau.
Ruas terpanjang justru ada pada Lingkar Tengah yang mencapai 18,558 kilometer. Pemkot Batam mengalokasikan anggaran sekitar Rp355,76 miliar untuk ruas yang menyambungkan Simpang Kantor Lurah Kibing, Jalan Diponegoro, Tiban Housing, Tiban Indah, hingga kawasan Tanjung Uma dan Pondok Pelangi.
Jika seluruh ruas tersebut digabungkan, total panjang trase mencapai sekitar 43,14 kilometer. Namun, Amsakar menegaskan pembangunan tidak akan dilakukan serentak. Menurutnya, pengerjaan bakal dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan perencanaan, anggaran, serta pembagian kewenangan antara Pemkot Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.
"Pembangunan ini membutuhkan perencanaan dan kolaborasi. Karena itu, kita akan melaksanakannya secara bertahap sesuai kemampuan dan prioritas. Yang terpenting, arah pembangunannya jelas dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," kata Amsakar.
Berdasarkan rencana pelaksanaan DBMSDA Batam, target pembangunan jalan lingkar pada 2026 mencapai 3,5 kilometer. Capaian itu akan berlanjut pada tahun berikutnya dengan penambahan 4,767 kilometer pada 2027.
Pembangunan konektivitas ini dinilai menjadi bagian penting dari transformasi Batam. Infrastruktur jalan yang semakin terhubung diharapkan mampu memangkas waktu tempuh, membuka akses kawasan baru, serta mendukung distribusi logistik yang lebih efisien.
"Batam terus berkembang. Infrastruktur harus mengikuti perkembangan itu. Kita ingin konektivitas semakin baik sehingga masyarakat lebih mudah bergerak dan kegiatan ekonomi dapat tumbuh di berbagai kawasan," pungkas Amsakar.
Program jalan lingkar ini sekaligus menjadi bukti komitmen kepemimpinan Amsakar-Li Claudia dalam menghadirkan infrastruktur terintegrasi yang menghubungkan berbagai wilayah Batam secara lebih luas.