TANJUNGPINANG — Aplikasi itu bekerja dengan kalkulasi sederhana. Pengguna cukup memilih jenis moda transportasi, memasukkan jarak tempuh, dan menentukan target durasi untuk mencapai impas emisi (carbon offset). Setelah data terisi, platform langsung menampilkan jumlah emisi gas buang dan mengonversinya menjadi jumlah bibit mangrove Rhizophora sp.
“Masyarakat tinggal memindai QR Code untuk menggunakan aplikasi ini, dan wisatawan bisa menghitung emisi perjalanan mereka secara mandiri,” kata Henky Irawan.
Henky telah menyerahkan aplikasi ini secara gratis kepada dua komunitas lokal, yaitu Mangrove Bintan Lestari dan Pengudang Bintan Mangrove. Melalui skema ini, wisatawan yang ingin menebus jejak karbon perjalanannya dapat membeli bibit mangrove langsung dari komunitas.
Pengelola pembibitan juga bisa memanfaatkan jasa penanaman dari warga setempat untuk menetralkan emisi. Komunitas masyarakat lain pun dapat menggunakan aplikasi ini tanpa biaya, cukup dengan memindai QR Code atau mengklik tautan yang tersedia.
Integrasi teknologi ini tidak hanya mendukung konservasi lingkungan, tetapi juga menciptakan arus pendapatan baru bagi warga. Setiap pembelian bibit atau jasa penanaman oleh wisatawan menjadi pemasukan langsung bagi komunitas lokal yang mengelola pembibitan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Living Lab Mangrove Information & Training Center UMRAH dalam memperkuat konservasi, wisata, dan edukasi mangrove di Kepri.
“Langkah nyata ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 13, 14, dan 15,” ujarnya. Poin-poin tersebut berkaitan dengan penanganan perubahan iklim, ekosistem laut, serta ekosistem daratan.
Ke depannya, Living Lab UMRAH akan mengakomodir rekognisi Carbon Offset bagi individu maupun instansi untuk berbagai kebutuhan. Masyarakat yang ingin mencoba kalkulator emisi ini dapat langsung mengakses laman https://rhizophora-carbon-offset-calculator.onhercules.app.