Bahaya Mikroplastik pada Anak: Greenpeace Luncurkan Buku Guna Ulang

Penulis: Saifuddin Wahid  •  Minggu, 27 September 2026 | 10:55:01 WIB
Ilustrasi buku cerita bergambar "Rahasia Perjalanan Miko Si Monster Plastik" yang diluncurkan Greenpeace Indonesia.

KEPULAUAN RIAU — Plastik sekali pakai sering dianggap lebih higienis untuk wadah makanan keluarga, padahal partikel mikroplastik bisa berpindah ke makanan yang dikonsumsi anak setiap hari. Greenpeace Indonesia meluncurkan buku cerita bergambar untuk mengajak orang tua kembali ke sistem guna ulang.

Kekhawatiran soal keamanan pangan keluarga kini bergeser ke hal yang lebih kecil tapi sulit dilihat mata. Partikel mikroplastik berukuran mulai dari 5 milimeter bisa masuk ke tubuh lewat wadah makanan dan minuman yang dipakai sehari-hari.

Kesadaran ini yang mendorong Greenpeace Indonesia menggandeng duo penulis dan ilustrator asal Yogyakarta, Titah AW dan Sekar Bestari, menerbitkan buku cerita bergambar bertajuk "Rahasia Perjalanan Miko Si Monster Plastik".

Mengapa Plastik Sekali Pakai Justru Berisiko bagi Keluarga

Banyak rumah tangga memilih kemasan plastik sekali pakai karena dianggap lebih aman dan praktis. Persepsi ini yang ingin diluruskan lewat kampanye edukasi tersebut.

Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia, menjelaskan bahwa kontaminasi mikroplastik bisa terjadi tanpa disadari. "Karena ukurannya yang sangat kecil, mulai dari 5 millimeter saja, kontaminasi mikroplastik bisa terjadi kapan saja tanpa kita sadari," ujarnya.

Dampak kesehatan dari paparan mikroplastik inilah yang membuat perubahan pola pikir rumah tangga jadi langkah penting. Tujuannya bukan hanya soal kesehatan, tapi juga mengurangi beban lingkungan.

Buku Cerita sebagai Pintu Masuk Diskusi Orang Tua dan Anak

Buku "Rahasia Perjalanan Miko Si Monster Plastik" mengajak anak mengikuti perjalanan partikel mikroplastik dalam sistem pangan modern. Pendekatan cerita dipilih agar isu ini lebih mudah dicerna anak-anak.

Titah AW mengaku proses pembuatan buku ini membuatnya banyak belajar soal gaya hidup sehari-hari. "Sepanjang proses bikin buku, kami jadi sadar bahwa isu plastik itu isu yang besar sekali dan berkaitan dengan banyak hal. Mulai dari politik, kesehatan, lingkungan, hingga kesadaran sehari-hari," katanya.

Sekar Bestari menambahkan harapan agar anak-anak bisa jadi penggerak perubahan di keluarganya. "Kami juga berharap anak-anak justru bisa jadi agent of change dalam keluarga terkait habit penggunaan plastik sehari-hari, karena kami percaya anak-anak tuh sebetulnya aware sekali soal lingkungan sekitarnya," imbuhnya.

Rantang Riang: Festival Keluarga Minim Sampah

Peluncuran buku ini digelar dalam acara "Rantang Riang: Pantang Plastik Sekarang!" di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Festival keluarga ini mengusung pendekatan pola asuh minim sampah.

Selain peluncuran buku, acara tersebut memuat berbagai aktivitas edukatif soal bahaya ketergantungan plastik. Sistem guna ulang diperkenalkan sebagai solusi yang bisa langsung diterapkan keluarga.

Ibar Akbar, Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, mengingatkan bahwa sistem guna ulang bukan hal baru bagi rumah tangga Indonesia. "Lewat Rantang Riang, kami ingin mengajak keluarga Indonesia untuk mengembalikan kebiasaan lama keluarga yang sering bawa bekal pakai wadah guna ulang, seperti rantang, saat bepergian," ujarnya.

Kebiasaan ini menurutnya tergerus oleh sistem ekonomi ekstraktif yang mendorong konsumsi produk sekali pakai. Padahal praktik guna ulang sudah lama diadopsi keluarga Indonesia.

Peran Pemerintah dan Korporasi Tetap Dibutuhkan

Ibar menekankan bahwa inisiatif rumah tangga saja belum cukup menyelesaikan krisis sampah plastik. "Peran pemerintah serta tanggung jawab korporat juga krusial dalam hirarki pengelolaan sampah," tegasnya.

Regulasi yang tegas dan pengurangan produksi kemasan plastik sekali pakai dari hulu disebutnya sebagai dua aspek yang harus berjalan bersama. Tanpa dukungan keduanya, masalah sampah plastik tidak akan selesai.

Yang Bisa Ibu Lakukan Mulai Sekarang

Membiasakan anak membawa bekal dengan wadah guna ulang jadi langkah kecil yang berdampak besar. Libatkan anak saat memilih rantang atau botol minum agar mereka merasa punya peran.

Buku cerita seperti "Rahasia Perjalanan Miko" bisa jadi alat bantu untuk membuka obrolan soal plastik di rumah. Diskusi ringan usai membaca bisa membuat anak lebih sadar kebiasaan konsumsinya.

Mengurangi plastik sekali pakai di rumah bukan soal sempurna atau tidak, tapi soal konsistensi. Setiap wadah guna ulang yang dipakai ulang adalah satu langkah kecil menjauh dari paparan mikroplastik.

Reporter: Saifuddin Wahid
Sumber: greenpeace.org This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top