KEPULAUAN RIAU — Vivo X Fold 6 resmi menyambangi pasar global setelah lebih dulu meluncur di China pada Juni, membawa baterai 6.900 mAh, kamera utama 200 MP, dan bobot 235 gram. Ponsel lipat buku ini tidak akan masuk Inggris maupun Amerika Serikat, tetapi tersedia di sejumlah pasar Eropa terpilih. Perangkat ini menyasar pengguna lipat yang sudah lelah berkompromi soal baterai dan kamera.
Peluncuran Vivo X Fold 6 berlangsung di tengah persiapan Apple merilis iPhone Duo, foldable pertama mereka, serta kehadiran Galaxy Z Fold 8 dari Samsung yang tampil dengan bodi ringkas. Vivo memilih pendekatan berbeda: mempertahankan format buku konvensional yang sudah akrab bagi pengguna Android, lalu mengisi setiap sektornya dengan spesifikasi tertinggi.
Selama sepekan dipakai sebagai perangkat utama, X Fold 6 menunjukkan bahwa sejumlah keterbatasan klasik ponsel lipat mulai bisa ditekan. Layar penutupnya selebar ponsel flagship biasa, tidak sempit seperti Z Fold 8 Ultra, dan tidak lebih pendek seperti iPhone Duo.
Apple memilih menghilangkan kamera telephoto dari iPhone Duo. Vivo justru menempatkan telephoto yang disebut paling impresif di kelas ponsel lipat, lengkap dengan dukungan lensa teleconverter eksternal.
Kombinasi kamera 200 MP dan ultra-wide 50 MP diperkuat kerja sama Vivo dengan Zeiss, termasuk pelapisan lensa T* dan gaya foto hasil pengembangan bersama. Hasil foto dan video X Fold 6 dinilai berada di level teratas di antara ponsel lipat yang diuji sepanjang 2026.
Kapasitas 6.900 mAh membuat X Fold 6 bertahan hingga dua hari pemakaian berat, termasuk saat sering membuka layar lipat dan memotret. Pengisian penuh dari kondisi kosong memakan waktu sekitar 35 menit lewat kabel.
Keunggulan lain ada di multitasking. X Fold 6 mampu membuka hingga empat aplikasi dalam split view yang semuanya bisa diubah ukurannya, ditambah satu aplikasi kelima sebagai floating window. Jendela mengambang itu bahkan bisa diberi tab untuk berpindah aplikasi dengan cepat.
Sebagai perbandingan, iPhone Duo dilaporkan hanya bisa menampilkan dua aplikasi berdampingan dengan pembagian 50/50 yang tidak bisa diubah.
Animasi saat layar dibuka dan ditutup terasa lebih lambat dibanding pesaing. Setiap kali dibentangkan, muncul layar kosong sepersekian detik sebelum antarmuka muncul. Sejumlah aplikasi juga menutup diri di latar belakang untuk menghemat baterai, sehingga notifikasi bisa tertunda sampai pengaturan diubah.
Lipatan layar X Fold 6 tergolong minim, tetapi masih terlihat. Kualitasnya disebut setara Galaxy Z Fold 8 dan sedikit di belakang Oppo Find N6. Bodi dan tonjolan kameranya pun cukup besar sehingga selera pengguna bisa terbelah.
Vivo X Fold 6 tidak dijual di Inggris maupun Amerika Serikat. Pasar yang kebagian adalah sejumlah negara Eropa terpilih. Pembeli di luar wilayah tersebut harus mengimpor sendiri, yang berarti tidak ada paket kontrak operator dan proses klaim garansi menjadi lebih rumit.
Vivo belum mengumumkan harga resmi untuk pasar global dalam materi ini, sehingga angka pastinya belum bisa dipastikan. Pengguna Indonesia juga belum mendapat konfirmasi apakah perangkat ini akan masuk secara resmi.
Ketiganya mengambil arah yang saling bertolak belakang. iPhone Duo menyasar orang yang belum pernah memakai ponsel lipat, sementara X Fold 6 ditujukan bagi pengguna lipat yang sudah bosan menerima kompromi pada baterai, kamera, dan produktivitas.
Galaxy Z Fold 8 unggul di ukuran bodi yang ramping, tetapi X Fold 6 menawarkan kapasitas baterai dan kemampuan multitasking yang lebih agresif.
Bagi pengguna yang banyak memotret, bermain game, dan butuh menyelesaikan pekerjaan serius saat bepergian, X Fold 6 termasuk kandidat terkuat di kelasnya. Pengguna yang menginginkan ponsel lipat sederhana dengan pengalaman perangkat lunak paling mulus mungkin akan lebih tertarik pada pendekatan Apple.