KEPULAUAN RIAU — CEO Xbox Asha Sharma menegaskan divisi gaming Microsoft tidak dijual atau sedang dalam proses dijual, menjawab laporan Juni 2026 yang menyebut Microsoft sempat menimbang spin-off hingga joint venture. Pernyataan itu disampaikan lewat wawancara dengan The New York Times di tengah restrukturisasi besar yang memangkas ribuan posisi. Penegasan ini menjadi sinyal arah strategi Microsoft terhadap Xbox untuk beberapa tahun ke depan.
Microsoft memilih merombak Xbox dari dalam ketimbang melepasnya ke pihak lain. Sharma menyatakan perusahaan terbuka pada kemitraan baru, model operasional berbeda, dan sejumlah perubahan lain, tetapi menegaskan divisi gaming tetap punya masa depan bersama Microsoft.
Pernyataan itu muncul setelah divisi gaming Microsoft menjalani salah satu periode restrukturisasi terbesar dalam sejarahnya, mencakup pemangkasan posisi, penutupan studio, hingga perombakan struktur pengembangan game.
Laporan pada Juni 2026 menyebut Microsoft sempat mempertimbangkan sejumlah opsi untuk divisi gamingnya. Opsi itu mencakup menjadikan divisi gaming sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Microsoft, melakukan spin-off, atau membentuk joint venture dengan mitra lain.
Ketiga opsi tersebut tidak berarti penjualan sudah diputuskan. Namun secara teori, langkah itu dapat membuat divisi gaming lebih mudah dipisahkan dari Microsoft di masa depan.
Sharma kini menegaskan arah yang ditempuh adalah melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat Xbox kembali sukses. "Kami masih punya jalan panjang bersama Microsoft," ujarnya, seraya menekankan pendekatan jangka panjang terhadap bisnis tersebut.
Microsoft mengumumkan rencana pengurangan sekitar 3.200 posisi sepanjang tahun fiskal 2027. Putaran terbaru pada September kembali menghapus 268 posisi.
Perusahaan juga merombak struktur studio yang ada. Tanggung jawab Activision diperluas ke World's Edge dan Rare, pengembangan Halo berikutnya dipindahkan ke tim baru di bawah Activision, sementara Playground dan Turn 10 digabungkan untuk menangani Forza dan Fable.
Pada pernyataan sebelumnya, Microsoft menyebut sekitar tiga perempat dari restrukturisasi yang diumumkan telah berjalan pada September. Beberapa studio dilepas atau dikembalikan pengelolaannya, lapisan manajemen dikurangi, dan sumber daya diarahkan ke franchise yang dianggap punya jangkauan lebih besar.
CEO Microsoft Satya Nadella menyebut proses streamlining yang dilakukan Sharma sebagai hal yang positif. Ia menekankan kebutuhan menemukan model bisnis gaming yang berkelanjutan agar game dapat menjangkau lebih banyak pemain.
Nadella juga menyatakan ingin Xbox tetap menjadi publisher dan penyedia platform untuk PC maupun console. Arah itu sejalan dengan strategi platform yang mulai bergerak melampaui batas console.
Pada April, Sharma menyebut Xbox sedang mengevaluasi kembali pendekatannya terhadap eksklusivitas. Perusahaan juga menetapkan daily active players sebagai salah satu ukuran penting untuk arah bisnis ke depannya.
Pernyataan Sharma bukan berarti masalah Xbox sudah selesai. Perusahaan masih berada di tengah proses reset yang melibatkan pengurangan biaya, perubahan struktur studio, dan pencarian model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Bedanya, untuk saat ini Microsoft secara terbuka menegaskan bahwa solusi tersebut akan dicari di dalam Microsoft, bukan melalui penjualan Xbox. Bagi pelaku industri gaming dan investor, pernyataan ini menutup spekulasi jangka pendek soal perubahan kepemilikan divisi gaming, tetapi belum menjawab pertanyaan soal pertumbuhan jangka panjang platform tersebut.