KEPULAUAN RIAU — Sebanyak 3 kelas di MIN 1 Sidoarjo menerima suntikan vaksin Difteri Tetanus (Dt) dan Tetanus Diphtheria (Td) dalam kegiatan imunisasi rutin bersama Puskesmas Buduran. Bagi ibu yang anaknya sebentar lagi masuk sekolah dasar, berikut hal-hal penting soal imunisasi Dt dan Td yang perlu dipahami agar si kecil siap dan tidak takut.
Kepala MIN 1 Sidoarjo, Sri Utami, menyebut imunisasi Dt dan Td bukan sekadar rutinitas tahunan. Menurutnya, vaksin ini investasi jangka panjang untuk kekebalan tubuh anak agar terhindar dari penyakit berbahaya.
Kegiatan yang digelar Selasa pagi (20/10/2026) itu menyasar seluruh siswa kelas 1, 2, dan 5, baik laki-laki maupun perempuan. Petugas medis dari Puskesmas Buduran memandu proses penyuntikan bersama tim kesehatan sekolah di bawah koordinasi Koordinator UKS, Mujiati.
Dt adalah vaksin kombinasi untuk melindungi anak dari difteri dan tetanus. Sementara Td melindungi dari tetanus dan difteri dengan dosis yang disesuaikan untuk anak yang lebih besar.
Keduanya bekerja dengan merangsang tubuh membentuk antibodi. Difteri menyerang saluran pernapasan dan bisa berakibat fatal, sedangkan tetanus masuk lewat luka dan menyerang sistem saraf.
Perlindungan vaksin yang diberikan saat bayi tidak bertahan selamanya. Kadar antibodi bisa menurun seiring bertambahnya usia anak, sehingga perlu penguatan di usia sekolah.
Imunisasi ulang di kelas 1, 2, dan 5 memberi perlindungan tambahan saat anak mulai aktif bermain di luar rumah. Risiko luka dan paparan kuman meningkat seiring aktivitas yang makin luas.
Pastikan anak sudah sarapan dan cukup tidur sebelum jadwal imunisasi di sekolah. Anak yang cukup energi biasanya lebih tenang menghadapi suntikan.
Ceritakan dengan jujur bahwa akan ada rasa sedikit nyeri, tapi hanya sebentar. Hindari berbohong soal "tidak sakit sama sekali" karena bisa membuat anak kecewa dan lebih sulit diimunisasi berikutnya.
Bawakan pakaian berlengan pendek atau longgar agar petugas lebih mudah menyuntik. Setelah pulang, awasi bekas suntikan dan beri kompres dingin jika bengkak ringan.
Nyeri di bekas suntikan, demam ringan, atau lemas sementara adalah reaksi normal. Keluhan ini biasanya hilang dalam satu sampai dua hari.
Segera hubungi dokter jika anak demam tinggi lebih dari 39 derajat Celsius, bengkak di bekas suntikan makin membesar, atau muncul reaksi alergi seperti gatal dan sesak napas. Reaksi berat sangat jarang, tapi tetap perlu diwaspadai.
Mujiati menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran kegiatan tersebut. "Alhamdulillah, berkat koordinasi yang baik serta persiapan matang antara pihak madrasah dan Puskesmas Buduran, seluruh tahapan imunisasi hari ini berjalan sangat lancar. Anak-anak sangat kooperatif dan pemberani," ujarnya.
Dukungan wali murid ikut menentukan. Orang tua yang memberi penjelasan positif di rumah membuat anak lebih siap menerima suntikan di sekolah.
Imunisasi di sekolah adalah kerja sama tiga pihak: tenaga kesehatan, guru, dan orang tua. Ketiganya saling melengkapi agar anak mendapat perlindungan optimal tanpa rasa cemas berlebihan.