KEPULAUAN RIAU — Pembukaan perdagangan hari ini menjadi kelanjutan tren negatif rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Mata uang Garuda nyaris menyentuh level psikologis Rp17.900, level yang terakhir kali terlihat saat krisis tahun 1998. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: sentimen global yang buruk dan permintaan impor yang tetap tinggi.
Pergerakan Mata Uang Asia: Bervariasi, Tapi Sebagian Besar di Zona Merah
Di kawasan Asia, tekanan terhadap dolar AS tidak merata. Ringgit Malaysia menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,25 persen, disusul yuan China yang turun 0,05 persen dan peso Filipina melemah 0,03 persen. Namun, won Korea Selatan justru menguat 0,11 persen, yen Jepang naik 0,03 persen, dan dolar Singapura bertambah 0,02 persen.
Pola ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor domestik dan sensitivitas tinggi terhadap harga komoditas energi. Indonesia sebagai importir minyak netto sangat rentan ketika harga minyak melonjak akibat ketegangan geopolitik.
Analis: Lonjakan Harga Minyak dan Ketidakpastian Perdamaian Jadi Pemicu Utama
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa eskalasi baru di Timur Tengah telah mengubah peta risiko global secara drastis. "Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang hari ini. Artinya, potensi menembus level Rp17.900 masih terbuka lebar jika tekanan beli dolar AS berlanjut.
Dampak ke Pelaku Bisnis dan Investor: Biaya Impor Membengkak, Pasar Saham Tertekan
Pelemahan rupiah hingga level ini langsung terasa di sektor riil. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS atau ketergantungan tinggi pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi signifikan. Sektor manufaktur, farmasi, dan teknologi menjadi yang paling terpukul.
Di pasar saham, IHSG diperkirakan akan kembali tertekan. Investor asing cenderung melakukan aksi jual (net sell) ketika rupiah melemah tajam karena nilai aset mereka dalam dolar AS tergerus. Data perdagangan kemarin mencatat investor asing sudah melakukan aksi jual bersih lebih dari Rp500 miliar.
BI di Persimpangan: Intervensi atau Tahan Suku Bunga?
Bank Indonesia kini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, pelemahan rupiah membutuhkan intervensi langsung di pasar valas dan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan. Di sisi lain, kenaikan BI rate akan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang baru pulih.
Pekan lalu, BI sudah menggelar operasi moneter untuk menstabilkan kurs dengan menjual surat berharga valas. Namun, tekanan global yang terus berlanjut membuat efektivitas langkah tersebut terbatas. Pasar menunggu keputusan RDG BI bulan ini—apakah akan menahan suku bunga di 5,75 persen atau justru menaikkannya untuk membendung pelemahan rupiah.
Investasi mengandung risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor setelah mempertimbangkan profil risiko masing-masing.