KEPULAUAN RIAU — Kylian Mbappe melancarkan kampanye publik paling agresif dalam sejarah Ballon d'Or menjelang malam penganugerahan di London bulan depan. Penyerang Real Madrid itu bersaing ketat dengan Harry Kane, Ousmane Dembele, dan Lamine Yamal di edisi yang disebut-sebut paling ketat sejak 1977.
Ballon d'Or 2026 menjadi edisi paling terbuka dalam hampir lima dekade terakhir. Empat nama masuk bursa juara: Mbappe, Kane, Dembele, dan Yamal. Tidak ada satu pun yang benar-benar mendominasi, sehingga setiap faktor di luar lapangan bisa jadi penentu.
Empat Kandidat, Satu Trofi, Persaingan Terketat Sejak 1977
Terakhir kali Ballon d'Or begitu ketat terjadi pada 1977. Kala itu Allan Simonsen, Kevin Keegan, dan Michel Platini hanya dipisahkan empat poin di podium akhir. Situasi serupa kini terulang, tapi dengan dinamika yang jauh berbeda.
Mbappe, Kane, Dembele, dan Yamal sama-sama punya argumen kuat. Dembele datang sebagai pemegang trofi. Kane membawa Bayern Munich meraih double Jerman. Yamal menyumbang dua trofi bersama Barcelona dan Spanyol. Mbappe? Ia mengandalkan narasi personal yang ia bangun sendiri.
Mbappe Pilih Jalur Kampanye, Bukan Prestasi Tim
Penyerang Prancis itu menutup musim 2025/26 tanpa trofi bersama klub maupun negaranya. Ia finis sebagai top scorer Piala Dunia, tapi Prancis kalah dari Inggris di perebutan tempat ketiga. Total keterlibatan golnya bersama Prancis dan Madrid mencapai 57 dari 52 penampilan.
Angka itu kalah jauh dari catatan Kane. Kapten timnas Inggris tersebut menorehkan 75 gol dan assist dari 58 laga bersama Bayern dan Inggris. Kane juga jadi pemain tercepat yang menembus 100 gol Bundesliga, plus mengeliminasi Madrid dari Liga Champions.
Di sisi lain, Yamal mencatat 44 keterlibatan gol dalam 53 pertandingan. Meski sempat terganggu cedera di Piala Dunia, pemain muda Spanyol itu berperan besar dalam gelar Barcelona dan timnas Spanyol.
Kampanye Mbappe Sentuh Wilayah Aneh
Upaya Mbappe menarik simpati pemilih berjalan agresif. Ia mengaku akan memilih dirinya sendiri jika diizinkan, meski pemenang ditentukan sepenuhnya oleh jurnalis. Ia juga menyebut latar belakang budaya Afrika dan kunjungan terbarunya ke Kamerun sebagai alasan koresponden Afrika mendukungnya.
Yang lebih ganjil, tangkapan layar hasil AI yang menampilkan Mbappe diwawancarai di bak mandi oleh YouTuber Prancis sempat viral. Wawancara itu tidak pernah terjadi.
Mbappe beralasan trofi Ballon d'Or "memang tempatnya di Bernabeu". Real Madrid dan Barcelona masing-masing telah 12 kali memenangkan trofi tersebut, terbanyak di antara klub mana pun.
Bayang-Bayang 2024 dan Luka yang Belum Sembuh
Kekalahan Vinicius Jr dari Rodri pada 2024 masih membekas. Vinicius kalah 41 poin dan memboikot upacara sebagai bentuk protes. Ia bahkan menyatakan akan menang "10 kali jika harus".
Obsesi terhadap trofi itu dinilai mulai mengganggu performa Vinicius di lapangan. Efeknya berbalik: sebagian pemilih yang sebelumnya mendukungnya justru menjauh.
Kane Diam, Tapi Bukti Bicara Sendiri
Berbeda dari Mbappe, Kane enggan mengumbar ambisi. Sikap rendah hati itu justru memperkuat posisinya. Pelatih timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, ikut menjagokan mantan anak asuhnya di Tottenham itu ketimbang Lionel Messi.
Messi masih mendapat dukungan dari rekan-rekannya di Argentina dan David Beckham, salah satu pemilik Inter Miami, untuk meraih trofi kesembilan. Namun di usia 33 tahun, Kane tetap berada di puncak permainannya.
Yang Menang di London Tetap Jadi Perdebatan
Siapa pun yang dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia di London nanti akan tetap menuai sengketa. Dinamika itu sudah berlangsung sejak duopoli Messi-Ronaldo mengubah makna trofi ini.
Jika Mbappe menang, satu hal yang pasti: cara terbaik meraih Ballon d'Or ke depan mungkin bukan mencetak gol terbanyak, melainkan bicara paling lantang di luar lapangan.