TANJUNGPINANG — Ketua HIMA PERSIS Tanjungpinang-Bintan, Muhammad Zhein Noor Ramadhan, menyinggung soal wilayah terdampak, langkah penanganan, hingga estimasi waktu normalisasi pasokan listrik yang menurutnya belum tersampaikan utuh ke warga. Ia menekankan pemulihan jaringan tetap butuh pertimbangan teknis, terutama untuk menjaga keselamatan petugas di lapangan.
Menurut Zhein, warga berhak mendapat kejelasan soal kondisi kelistrikan yang mereka hadapi, bukan sekadar keterangan bahwa proses pemulihan sedang berjalan. Ia menyoroti kemungkinan penerapan pemadaman bergilir yang, jika benar dilakukan, harus disertai jadwal dan mekanisme yang terbuka.
Mengapa Jadwal Pemadaman Bergilir Harus Diumumkan Terbuka
Zhein menyebut jadwal dan mekanisme pemadaman bergilir perlu disampaikan lebih dulu agar masyarakat bisa menyesuaikan aktivitas harian. Tanpa informasi itu, warga menghadapi ketidakpastian yang menyulitkan pengaturan waktu, termasuk bagi mereka yang menjalankan usaha dari rumah.
Ia juga meminta PLN tidak hanya mengabarkan bahwa pemulihan tengah berlangsung, tetapi menjelaskan langkah penanganan yang dilakukan serta perkiraan perkembangan ke depan. Komunikasi publik yang responsif dinilai sama pentingnya dengan kerja teknis di lapangan.
"Kami mengapresiasi petugas yang bekerja di lapangan untuk memulihkan pasokan listrik. Pada saat yang sama, kami meminta PLN memberikan kepastian informasi kepada masyarakat," tegas Zhein.
UMKM Kuliner Paling Merasakan Dampak Gangguan Listrik
Gangguan pasokan listrik tidak berhenti pada ketidaknyamanan rumah tangga. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut terdampak karena operasional usaha bergantung pada listrik, mulai dari penerangan, penyimpanan bahan makanan, hingga pengoperasian peralatan usaha.
Pelaku usaha kuliner menjadi kelompok yang paling merasakan imbasnya. Ari Saputra, pemilik warung nasi Padang, mengeluhkan gangguan listrik yang mengganggu kegiatan usahanya.
Zhein berpandangan pelaku UMKM perlu kepastian agar bisa mengambil langkah antisipasi, seperti menyesuaikan jam operasional dan mengatur kebutuhan usaha. Menurutnya, penyesuaian itu penting untuk menekan potensi kerugian akibat pasokan listrik yang tidak menentu.
"Bagi masyarakat yang menjalankan usaha kecil, waktu dan kepastian sangat berarti. Mereka harus tetap membayar biaya operasional, menjaga kualitas makanan, dan melayani pelanggan," katanya.
Saluran Pengaduan dan Informasi Resmi yang Konsisten
Selain transparansi, HIMA PERSIS Tanjungpinang-Bintan menyoroti pentingnya komunikasi publik yang responsif. Zhein berharap PLN UP3 Tanjungpinang menyediakan saluran pengaduan yang mudah diakses warga.
Pembaruan informasi juga diminta disampaikan secara konsisten melalui kanal resmi. Langkah itu dinilai perlu agar informasi soal pemadaman bergilir tidak menimbulkan simpang siur dan keresahan di tengah masyarakat.
Zhein menegaskan pihaknya memahami bahwa pemulihan sistem kelistrikan membutuhkan penanganan teknis dan koordinasi lintas pihak. Namun, upaya tersebut perlu diiringi pelayanan informasi yang terbuka sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan publik.
HIMA PERSIS Tanjungpinang-Bintan berharap PLN UP3 Tanjungpinang mempercepat pemulihan pasokan listrik dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas, meningkatkan transparansi informasi, serta memperkuat komunikasi dengan warga di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.