BATAM — Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ke dalam ekosistem usaha kecil menengah. Langkah ini diambil menyusul performa ekonomi Kepri yang tumbuh 7,04 persen pada Triwulan I-2026, menempatkan provinsi ini dengan pertumbuhan tertinggi di seluruh wilayah Sumatera.
Pelatihan khusus ini digelar di Kampus Unrika Batam, Kamis (7/5/2026), dengan melibatkan Anggota DPD RI dapil Kepri, Dwi Ajeng Sekar Respaty, serta ASEAN Foundation. Program ini menargetkan 146 ribu pelaku UMKM agar mampu mengadopsi teknologi digital dalam pengelolaan bisnis harian mereka.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kepri, Riki Rionaldi, menyatakan bahwa penguatan AI tahun ini merupakan kelanjutan dari program peningkatan kapasitas yang telah berjalan sejak 2025. Teknologi cerdas tersebut diproyeksikan menjadi instrumen utama dalam strategi pemasaran dan efisiensi operasional.
“Tahun ini kami meningkatkan pemanfaatan AI. Teknologi ini menjadi asisten digital untuk pemasaran hingga efisiensi operasional bisnis,” ujar Riki.
Riki menambahkan bahwa pendampingan transformasi digital ini akan diperluas hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Tujuannya agar pelaku usaha di seluruh pelosok Kepri bisa naik kelas dan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi daerah yang sedang positif.
Dukungan terhadap pelatihan ini juga datang dari Google.org dan ADB melalui simulasi praktis pengelolaan bisnis. Fokus utamanya adalah membekali pelaku usaha dengan kemampuan teknis agar produk lokal Kepri memiliki standar saing yang kuat di level regional.
Senator Dwi Ajeng Sekar Respaty menegaskan bahwa penguasaan teknologi AI bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi pengusaha lokal.
“Penguasaan AI menjadi kebutuhan, agar UMKM lokal mampu bersaing di tingkat ASEAN,” kata Dwi Ajeng di sela-sela kegiatan pelatihan.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 94.600 UMKM di Kepri telah terintegrasi dalam Sistem Informasi Data Tunggal nasional. Pemprov Kepri kini berfokus mendorong sisa pelaku usaha lainnya, dari total 146 ribu, untuk segera masuk ke dalam ekosistem digital yang lebih aman dan tangguh.