BATAM — Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Andi Agung, memastikan tahun ajaran 2025/2026 menjadi periode terakhir penerapan sistem dua shift di sejumlah sekolah negeri Kota Batam. Mulai 2026/2027, tidak ada lagi siswa yang masuk siang karena keterbatasan ruang kelas.
"Ini tahun terakhir persoalan penerimaan murid baru seperti yang terjadi di masa lalu. Ke depan tidak ada lagi sistem pembelajaran dua shift," kata Andi Agung, Kamis (14/5/2026).
Ketimpangan Infrastruktur Jadi Biang Kerok
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengakuan terbuka bahwa daya tampung sekolah di Batam selama ini tidak seimbang dengan angka kelulusan. Penumpukan siswa terjadi di sekolah-sekolah favorit, sementara sekolah lain kekurangan peminat.
Menurut Andi, tingginya angka kelulusan setiap tahun tidak diimbangi penambahan ruang belajar yang memadai. Akibatnya, sistem dua shift dipaksakan sebagai solusi jangka pendek agar seluruh siswa negeri tetap tertampung.
"Penerimaan siswa tidak bisa lagi dipaksakan. Harus disesuaikan dengan daya tampung sekolah," tegasnya.
Bangun Sekolah Baru dan Aturan Kapasitas Kelas
Pemerintah Provinsi Kepri bersama pemerintah kabupaten dan kota mengklaim telah membangun sekolah baru serta menambah ruang kelas dalam tiga tahun terakhir, khususnya untuk jenjang SMA. Sistem penerimaan peserta didik baru juga mulai disesuaikan.
"Dua tahun terakhir jumlah peserta didik sudah mulai disesuaikan dengan kapasitas sekolah," ujar Andi.
Ke depan, jumlah siswa per kelas akan mengikuti ketentuan yang berlaku demi efektivitas pembelajaran. Tidak ada lagi kelas yang diisi melebihi kapasitas.
Masih Ada Pekerjaan Rumah: Kesenjangan Kualitas Sekolah
Meski sistem dua shift dihapus, persoalan ketimpangan kualitas dan persebaran sekolah masih menjadi tantangan besar di Batam. Konsentrasi siswa di sekolah tertentu menunjukkan fasilitas dan mutu pendidikan antar sekolah masih timpang.
Pemerintah daerah kini mulai fokus mengurangi penumpukan di sekolah favorit agar proses belajar mengajar lebih merata. Andi mengakui pembenahan sistem pendidikan di Kepri masih membutuhkan dukungan pemerintah pusat, terutama untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas tenaga pendidik.
"Sejak 2020 hingga sekarang kita terus berbenah. Memang sempat menghadapi berbagai tantangan, terutama pada 2021. Namun setiap tahun selalu ada perbaikan, terutama dalam pengembangan sarana dan prasarana pendidikan," tutupnya.