Mobil Listrik Baterai Nikel Dapat PPN DTP 100 Persen Juni 2026

Penulis: Saifuddin Wahid  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:04:01 WIB
Mobil listrik dengan baterai nikel akan mendapatkan PPN DTP 100 persen mulai Juni 2026.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi menetapkan arah baru pemberian insentif kendaraan listrik di Indonesia dengan memprioritaskan penggunaan material lokal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa mobil listrik yang mengadopsi baterai berbasis nikel berhak mendapatkan diskon pajak penuh. Langkah ini diambil guna mempercepat penyerapan cadangan nikel domestik yang menjadi keunggulan kompetitif industri manufaktur tanah air.

Perbedaan Signifikan Insentif PPN DTP Nikel dan LFP

Skema insentif yang akan berlaku efektif pada pertengahan 2026 ini menciptakan jarak lebar antara teknologi baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Mobil listrik dengan baterai nikel diproyeksikan menerima PPN DTP hingga 100 persen. Sementara itu, unit yang mengandalkan baterai non-nikel atau LFP hanya akan mendapatkan potongan pajak mulai dari 40 persen.

Kementerian Perindustrian nantinya bertugas menyusun mekanisme teknis terkait pembagian kuota 100 ribu unit mobil listrik tersebut. Fokus utama kebijakan ini adalah memastikan bahwa subsidi negara berkontribusi langsung pada penguatan rantai pasok nikel di dalam negeri. Saat ini, mayoritas produsen asal Tiongkok lebih memilih LFP karena biaya produksi yang lebih terjangkau, meski secara kepadatan energi masih di bawah NMC.

Keunggulan Teknis Baterai NMC pada Segmen Premium

Baterai jenis NMC yang banyak digunakan oleh merek-merek Eropa dan Korea Selatan memiliki karakteristik kepadatan energi yang tinggi. Hal ini memungkinkan produsen menciptakan mobil dengan jarak tempuh lebih jauh tanpa harus menambah volume fisik baterai secara berlebihan. Ukurannya yang lebih ringkas memberikan fleksibilitas bagi desainer untuk mengoptimalkan ruang kabin atau aerodinamika kendaraan.

Meskipun memiliki performa unggul, proses produksi baterai nikel jauh lebih kompleks dan membutuhkan biaya investasi tinggi. Itulah alasan mengapa teknologi ini lebih sering ditemukan pada model-model kelas menengah ke atas atau segmen premium. Sebaliknya, merek-merek Tiongkok yang fokus pada volume penjualan massal cenderung menggunakan LFP untuk menekan harga jual agar lebih kompetitif di pasar global maupun lokal.

Daftar Model Mobil Listrik Pengguna Baterai Nikel di Indonesia

Berdasarkan data model yang beredar saat ini, dominasi baterai nikel masih dipegang oleh pabrikan non-Tiongkok, dengan pengecualian pada beberapa model performa tinggi. Berikut adalah daftar kendaraan listrik berbasis baterai NMC yang dipasarkan di Indonesia:

  • Hyundai: Ioniq 5 (N, Batik, Prime, Signature), Ioniq 6 Signature, All New Kona Electric (N, Style, Prime, Signature).
  • BMW: i4 eDrive35, i5 (eDrive40, M60, Touring), iX1 eDrive20, iX (xDrive40, xDrive45, xDrive50), i7 xDrive60 Gran Lusso.
  • Mercedes-Benz: EQB 250+, EQE (350+, 4Matic), EQS (450+, AMG Line, Edition One, 4Matic), G 580 EQ Technology, Maybach EQS 680.
  • Kia: EV6 (GT, GT Line), EV9 (GT Line, Earth).
  • Volvo: EX30 (Plus, Ultra), EX40, EC40.
  • MG & Mini: MG Cyberster, MG 4 EV Max, Mini Electric (Cooper SE, JCW), Countryman SE All4, Aceman SE.
  • Xpeng: X9 LR Pro Plus.

Penerapan kebijakan ini pada 2026 diprediksi akan mengubah peta persaingan harga di pasar otomotif nasional. Pabrikan yang sudah melakukan lokalisasi produksi baterai nikel, seperti Hyundai melalui kemitraan dengan LG Energy Solution di Karawang, berada pada posisi paling menguntungkan untuk menyerap insentif maksimal dari pemerintah.

Reporter: Saifuddin Wahid
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top