JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, kurs rupiah berada di posisi Rp17.855 per dolar AS, mendekati batas psikologis Rp17.900 yang sempat dikhawatirkan para pelaku pasar. Kondisi ini menjadi yang terlemah dalam periode terakhir dan langsung dirasakan oleh importir serta pelaku UMKM yang bergantung pada bahan baku impor.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penyebab utama pelemahan ini bukan berasal dari faktor domestik. “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan yang juga melanda hampir seluruh mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura melemah 0,16 persen, dan yuan China terkoreksi 0,05 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis 0,03 persen.
Di pasar negara maju, euro Eropa terdepresiasi 0,13 persen dan poundsterling Inggris turun 0,19 persen. Dolar Australia menjadi salah satu yang paling terpukul dengan koreksi 0,29 persen, sejalan dengan pelemahan rupiah.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang volatil hari ini. “Pergerakan rupiah hari ini berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS,” jelasnya. Artinya, jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah menembus level Rp17.900 dalam waktu dekat.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk terus memantau pergerakan pasar. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda membuat prospek penguatan rupiah dalam jangka pendek masih suram.