Laporan Axios yang dirilis pekan ini mengungkapkan skandal pengeluaran AI paling boros yang pernah tercatat. Seorang konsultan AI yang tidak disebutkan namanya mengaku salah satu kliennya secara tidak sengaja membakar dana sebesar US$500 juta (sekitar Rp 8 triliun dengan kurs Rp 16.000) dalam satu bulan. Penyebabnya sederhana: perusahaan tersebut gagal menerapkan batas pemakaian (usage limit) pada lisensi Claude untuk para karyawannya.
Kasus ini bukan yang pertama. Pada April lalu, seorang pelanggan Google Cloud dikejutkan tagihan US$18.000 setelah akunnya diretas — padahal anggaran yang disiapkan hanya US$7. Sebelumnya, pembuat OpenClaw mengaku menghabiskan US$1,3 juta token API OpenAI dalam sebulan. Namun, angka setengah miliar dolar membuat kasus terbaru ini berada di liga yang sama sekali berbeda.
Skala pengeluaran sebesar itu secara otomatis mempersempit kemungkinan identitas perusahaan misterius tersebut. Hanya korporasi raksasa global yang memiliki kapasitas pembakaran dana sebesar itu — atau, seperti sindiran seorang pengguna di forum diskusi, perusahaan yang kini sedang menuju kebangkrutan.
Laporan Axios juga menyoroti fenomena aneh di balik pengeluaran AI yang membengkak. Banyak karyawan yang menggunakan AI untuk tugas-tugas sepele — mulai dari mengecek cuaca hingga mengotomatiskan pekerjaan membosankan yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Alih-alih meningkatkan produktivitas, AI justru dipakai untuk hal-hal yang tidak bernilai tambah.
Fenomena ini paling kentara terjadi di Amazon. Beberapa pengguna X berspekulasi bahwa Amazon mungkin adalah perusahaan misterius yang dimaksud. Pasalnya, Financial Times melaporkan Kamis lalu bahwa Amazon telah membatalkan papan peringkat penggunaan AI internalnya. Penyebabnya: karyawan kedapatan sengaja memperbesar konsumsi token AI — atau yang disebut "tokenmaxxing" — hanya untuk menaikkan posisi mereka di papan peringkat.
Kritik terhadap pemborosan AI juga datang dari CEO Uber. Ia secara terbuka menyatakan tidak ada hubungan antara praktik tokenmaxxing dan kemampuan perusahaan untuk meluncurkan produk yang benar-benar berguna. Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa gelombang besar investasi AI saat ini belum menghasilkan dampak bisnis yang terukur.
Masalah lain muncul dari sifat agen AI (agentic AI) yang jauh lebih rakus sumber daya. Alat-alat AI generasi terbaru ini dilaporkan mengonsumsi token hingga 1.000 kali lebih banyak dibandingkan sekadar bertanya pada model bahasa besar (LLM) biasa. Artinya, tanpa pengawasan ketat, tagihan bisa meledak dalam hitungan jam.
Kasus setengah miliar dolar ini menjadi pengingat paling mahal dalam sejarah adopsi AI korporat. Perusahaan yang sebelumnya terburu-buru membeli lisensi AI tanpa sistem kontrol kini mulai merasakan dampaknya. Biaya operasional membengkak, sementara pengembalian investasi masih dipertanyakan.
Belum ada konfirmasi resmi dari pihak mana pun mengenai identitas perusahaan yang disebut dalam laporan Axios. Namun, satu hal yang pasti: lupa memasang batas pemakaian kini menjadi kesalahan termahal yang pernah dilakukan sebuah korporasi di era AI.