JAKARTA — Keputusan menaikkan suku bunga acuan diambil di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang lebih lemah dari perkiraan. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pelemahan rupiah tidak hanya dipicu gejolak global dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, tetapi juga aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia.
Kenaikan BI-Rate menjadi 5,5 persen ini, kata Perry, bertujuan meningkatkan imbal hasil. Harapannya, daya tarik masuknya aliran investasi portfolio asing ke Indonesia ikut terdongkrak.
"Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," kata Perry dalam pernyataan terkonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,25 persen.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa pagi justru menunjukkan penguatan. Rupiah bergerak naik 54 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.134 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.188 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh meredanya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia oleh meredanya geopolitik di Timteng dimana Iran dan Israel untuk sementara waktu menghentikan penyerangan,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pemerintah Iran, mengutip Anadolu, telah mengumumkan untuk mengakhiri serangannya terhadap Israel, namun tetap mengancam respons keras jika rezim Israel kembali menyerang Lebanon.