KEPULAUAN RIAU — General Manager Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan pertunjukan akan digelar dua kali setiap bulan. Beragam kesenian khas Kalimantan Tengah bakal ditampilkan, mulai dari tari tradisional, musik akustik, hingga penampilan vokal yang melibatkan anak-anak binaan Ditjenpas.
"Ditjenpas memiliki potensi yang sangat luar biasa dari anak-anak binaan mereka. Kami ingin menampilkan daya tarik dan kekayaan budaya lokal yang dimiliki Kota Palangka Raya," ujar I Made, Senin (15/6).
I Made menambahkan, program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan seni dan budaya. Pihaknya berharap kegiatan ini mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal yang terlibat.
"Ini merupakan kesempatan untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat sekaligus melibatkan pelaku usaha lokal dalam mendukung produktivitas seni dan budaya," katanya.
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan publik di Bandara Tjilik Riwut. Bandara diharapkan berfungsi ganda: sebagai sarana transportasi sekaligus ruang promosi budaya daerah yang berkelanjutan.
Seorang penumpang asal Selandia Baru, Mila, yang tengah dalam perjalanan ke Yogyakarta, mengaku terkesan dengan pertunjukan di bandara. Ia adalah peneliti orangutan Kalimantan yang baru pertama kali menyaksikan tarian tradisional Dayak secara langsung.
"Tarian tradisional dan musik di sini sangat menarik. Saya sangat senang melihat dan menikmati keindahan budaya yang ditampilkan," ujar Mila.
Menurutnya, kegiatan seni di bandara mampu menciptakan suasana yang lebih hidup dan nyaman bagi para penumpang. Ia bahkan berharap suatu saat bisa mempelajari dan menarikan tarian Dayak seperti para penampil.
Melalui kolaborasi ini, Ditjenpas dan PT Angkasa Pura Indonesia berharap Bandara Tjilik Riwut bisa menjadi pusat promosi budaya daerah yang berkelanjutan. Selain melestarikan budaya lokal, program ini diharapkan memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Palangka Raya dan sekitarnya.
Dengan jadwal pertunjukan rutin dua kali sebulan, bandara ini perlahan bertransformasi menjadi panggung apresiasi seni yang melibatkan mantan narapidana, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Tengah ke khalayak lebih luas.