KEPULAUAN RIAU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 10.27.45 WIB dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault.
"Gempa bumi yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault," ujar Wijayanto.
Di Sulawesi Barat, warga Kabupaten Mamuju merasakan guncangan cukup kuat. Seorang warga, Halim Umar, mengaku getaran terasa jelas meski durasinya relatif singkat.
"Awalnya seperti ada truk lewat, tapi makin lama makin kuat. Kami langsung keluar rumah karena takut ada gempa susulan," kata Halim saat dikonfirmasi via pesan singkat.
Getaran juga menjalar hingga Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pinrang. Warga setempat, Irwanto, menyebut guncangan membuat perabot di dalam rumah sempat bergoyang. "Lampu gantung goyang, kaca juga bergetar. Kami semua langsung keluar rumah," ujarnya.
Wilayah Gorontalo, termasuk Pohuwato dan Kota Gorontalo, turut melaporkan getaran. Sejumlah warga di daerah tersebut melakukan evakuasi mandiri ke area terbuka sebagai langkah antisipasi.
BMKG mencatat hingga sekitar satu jam setelah gempa utama, telah terjadi sedikitnya sembilan gempa susulan. Magnitudo terbesar dari gempa susulan tersebut mencapai 5,2.
Meski guncangan cukup signifikan, BMKG memastikan gempa utama tidak berpotensi tsunami. Karakter gempa dangkal dengan mekanisme sesar normal membuat getarannya terasa lebih kuat di permukaan dan meluas secara horizontal.