KEPULAUAN RIAU — Hasil imbang tersebut memastikan Indonesia finis di posisi ketiga Grup A, di bawah Vietnam dan Singapura. Sebelumnya, pasukan John Herdman juga dihantam telak 0-3 oleh Vietnam di Stadion Pakansari. Dua hasil buruk ini mengubur mimpi Garuda untuk memutus kutukan enam kali runner-up di turnamen level ASEAN.
Kekecewaan publik bukan tanpa alasan. Skuad saat ini dihuni banyak pemain yang berpengalaman di kompetisi Eropa. Reputasi John Herdman, yang pernah membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 dan sukses menangani tim putri Kanada, juga sempat menaikkan ekspektasi.
Reputasi Bukan Jaminan, Mental dan Organisasi Permainan Jadi Sorotan
Fakta di lapangan berbicara lain. Sepak bola tidak dimenangkan oleh nama besar atau nilai pasar pemain. Pertandingan ditentukan oleh organisasi permainan, disiplin, kebugaran, dan mental bertanding. Pertanyaan besarnya, mengapa Indonesia kembali gagal di turnamen yang secara historis paling dekat dengan level kompetitifnya?
Indonesia memang memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan ASEAN dengan enam penampilan final sejak era Piala Tiger. Namun, semuanya berakhir sebagai runner-up. Ironisnya, generasi emas yang diharapkan memutus kutukan ini justru berhenti lebih awal di fase grup.
Padahal, fondasi sepak bola nasional mulai terlihat. Tim senior kembali tampil di Piala Asia. Tim kelompok umur menembus Piala Asia U-17, U-20, dan U-23, bahkan nyaris lolos ke Olimpiade Paris. Lalu, mengapa performa di turnamen ASEAN justru mengecewakan?
Evaluasi Berbasis Data, Bukan Mencari Kambing Hitam
Jawaban atas pertanyaan itu tidak boleh dicari dengan tergesa-gesa menyalahkan pemain atau memecat pelatih. Alasan "proses" juga tidak bisa dijadikan tameng. Yang dibutuhkan adalah evaluasi yang jujur, terbuka, dan berbasis data. Persoalan kebugaran, program latihan, recovery, nutrisi, hingga psikologi harus dibedah secara ilmiah.
Pemain juga harus menyadari bahwa seragam Timnas adalah tanggung jawab besar. Standar profesional harus lebih tinggi, termasuk menjaga kondisi fisik dan disiplin di luar lapangan. Popularitas di media sosial bukanlah masalah, tetapi ketika popularitas lebih besar daripada prestasi, di situlah masalah muncul.
John Herdman Wajib Jawab Kegagalan Adaptasi dan Strategi
Kritik juga layak ditujukan kepada John Herdman. Pengalaman internasionalnya tidak bisa dianggap remeh, tetapi reputasi masa lalu tidak boleh menjadi perisai dari evaluasi hari ini. Herdman harus menjelaskan mengapa permainan Indonesia mudah kehilangan arah ketika rencana awal gagal dan kesulitan mencari alternatif saat lawan menutup ruang gerak.
Publik tidak menuntut Garuda langsung menjadi juara dunia. Mereka hanya ingin melihat kesungguhan dan perbaikan nyata. Kritik dan harapan adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Timnas Indonesia tidak boleh sensi dan baperan, jadikan kritik sebagai bahan bakar untuk berbenah. Pertanyaan-pertanyaan sulit ini harus dijawab, bukan diabaikan.