TANJUNGPINANG — Kemunculan predator itu mengundang puluhan warga berbondong-bondong ke lokasi. Kekhawatiran akan keselamatan menjadi alasan utama mereka bertindak cepat, mengingat buaya berada di area padat penduduk.
Alih-alih menunggu bantuan, sejumlah warga berinisiatif menghalau dan menggiring buaya secara bergotong-royong. Mereka menggunakan alat seadanya untuk mengarahkan reptil itu kembali ke perairan. Aksi ini dilakukan dengan hati-hati guna menghindari serangan balik.
“Keberadaan buaya itu sempat menimbulkan keresahan karena berada di area yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat,” demikian laporan yang dihimpun dari GOTVNEWS. Setelah beberapa saat, hewan tersebut berhasil diarahkan menjauh dari permukiman. Situasi kembali aman dan kondusif.
Peristiwa di Kampung Madong bukanlah kasus pertama di Tanjungpinang. Wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan hutan mangrove dan muara sungai kerap menjadi jalur lintasan satwa liar, terutama saat musim hujan atau air pasang. Buaya muara (Crocodylus porosus) diketahui kerap terlihat di perairan sekitar Pulau Bintan.
Meski warga berhasil mengusir buaya tanpa korban, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi konflik satwa liar di kawasan permukiman. Belum ada laporan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat terkait upaya pemantauan atau evakuasi lanjutan pasca-kejadian.
Warga diimbau tetap waspada dan segera melapor ke pihak berwenang jika kembali melihat satwa liar serupa di sekitar pemukiman. (Ald)