KEPULAUAN RIAU — Penguatan di sesi pembukaan ini menjadi sinyal positif di tengah volatilitas yang masih membayangi pasar keuangan global. Sepekan terakhir, rupiah bergerak fluktuatif dan beberapa kali menembus level psikologis Rp17.900 per dolar AS.
Pada perdagangan Jumat (26/6) atau sehari sebelumnya, rupiah ditutup melemah 15 poin ke Rp17.967 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada Rabu (24/6) pagi, di mana rupiah turun 0,40% ke Rp17.931 per dolar AS akibat kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed sepanjang 2026.
Sementara itu, awal pekan lalu, rupiah sempat dibuka melemah 16 poin ke Rp17.859 per dolar AS pada Selasa (23/6). Tekanan terbesar terjadi pada Senin (22/6) pagi, saat rupiah melemah ke Rp17.813 per dolar AS, dipicu kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik AS-Iran.
Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik yang memengaruhi fluktuasi nilai tukar terhadap greenback. Selain faktor eksternal, rilis data ekonomi terbaru serta kebijakan moneter dari bank sentral diperkirakan akan menjadi penentu pergerakan rupiah hingga penutupan perdagangan sore nanti.
Investor disarankan untuk tetap mencermati dinamika pasar yang berkembang, mengingat sentimen eksternal seperti sikap hawkish bank sentral AS masih menjadi bayang-bayang. Sebelumnya, pada 19 Juni 2026, rupiah sempat melemah ke level Rp17.845 per dolar AS akibat inflasi AS yang tinggi dan sikap agresif The Fed.
Penguatan di sesi pembukaan Senin (29/6) memberikan sedikit ruang napas bagi pasar. Namun, para analis menilai pergerakan rupiah masih akan sangat sensitif terhadap data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama pelaku bisnis, terutama importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS. Fluktuasi yang tajam dalam sepekan terakhir—dari level terendah Rp17.813 hingga tertinggi Rp17.967—menunjukkan betapa dinamisnya pasar valuta asing saat ini.