KEPULAUAN RIAU — Kami memakai monitor ini selama beberapa pekan sebagai display utama untuk PS5 Pro dan PC gaming. Fokus pengujian ada pada kualitas gambar, akurasi warna, serta seberapa mulus integrasinya dengan ekosistem PlayStation. Hasilnya, ada beberapa temuan yang melampaui ekspektasi, tapi juga ada kompromi yang perlu Anda sadari sebelum mengeluarkan uang.
Secara visual, identitas PlayStation-nya kuat lewat kombinasi warna hitam-putih dan logo di bagian belakang. Bodinya ringan dan mudah diputar untuk akses port, dengan kualitas build yang solid. Penyesuaian tinggi, kemiringan, dan rotasi layar berjalan mulus, dan kaki monitor yang datar tidak memakan banyak ruang meja.
Fitur desain paling menonjol adalah kait pengisi daya DualSense yang bisa ditarik keluar dari belakang monitor. Ini solusi sederhana yang sangat praktis untuk menjaga meja tetap rapi. Kaitnya terasa kokoh, dan posisinya pas untuk menggantung controller saat diisi daya.
Untuk konektivitas, tersedia dua port HDMI 2.1, satu DisplayPort, dua USB-A, satu USB-C, dan satu USB-B. Semua kebutuhan untuk PS5 dan PC terpenuhi. Sayangnya, posisi port di bagian belakang membuat proses colok-kabel agak sulit tanpa melihat.
Panel IPS 27 inci 1440p ini tidak menggunakan teknologi OLED, tapi hasil pengujiannya mengagetkan. Kecerahan puncak mencapai 297 nit untuk SDR dan 339 nit untuk HDR — angka solid untuk monitor non-OLED. Yang membuatnya menarik adalah fitur Auto HDR tone-mapping yang otomatis mengkalibrasi pengaturan video PS5.
Saat menguji Marvel's Spider-Man 2, hasilnya impresif: warna neon dan efek energi tampak hidup, kontras antara area terang dan gelap terjaga, tanpa oversaturasi yang membuat gambar terlihat tidak natural. Hasil lab menunjukkan reproduksi warna sRGB mencapai 136,3% dan DCI-P3 96,9% dengan akurasi warna (Delta-E) 0,32 — angka yang sangat baik untuk monitor gaming harga menengah.
Sebagai perbandingan, Alienware AW2726DM di harga yang sama menawarkan warna lebih jenuh (190% sRGB), tapi performa HDR-nya tidak sebaik monitor PlayStation ini.
Refresh rate 240Hz adalah daya tarik utama di sini. PS5 sendiri hanya mendukung maksimal 120Hz, tapi monitor ini menyediakan ruang lebih untuk pengguna PC. Dengan dukungan VRR, pengalaman bermain Spider-Man 2 di PS5 Pro terasa sangat mulus — tidak ada screen tearing atau input lag yang mengganggu, bahkan saat aksi di layar sedang ramai.
Bagi pengguna PC, refresh rate 240Hz memberikan keunggulan kompetitif di game FPS atau racing. Monitor ini memang dirancang untuk dua dunia sekaligus, dan keduanya terlayani dengan baik.
Menu OSD-nya bersih dan mudah dinavigasi. Joystick di bagian belakang memudahkan perpindahan antara mode gambar, input, dan pengaturan lainnya. Hanya ada empat mode gambar standar (Default, Cool, Warm, sRGB) dengan varian HDR masing-masing. Meski minim opsi, hasilnya tetap konsisten di semua mode.
Monitor ini bukannya tanpa catatan. Resolusi yang mentok di 1440p dan panel IPS non-OLED menjadi dua hal yang harus Anda terima. Jika Anda sudah terbiasa dengan kontras sempurna dan hitam pekat dari layar OLED, monitor ini akan terasa berbeda. Namun, mengingat harganya yang relatif terjangkau, trade-off ini bisa dimaklumi.
Selain itu, minimnya opsi kustomisasi warna mungkin mengecewakan pengguna yang suka mengutak-atik preset. Bagi kebanyakan gamer, mode Default sudah memberikan hasil terbaik.
Monitor gaming 27 inci PlayStation adalah pilihan tepat bagi Anda yang ingin pengalaman PS5 di meja kerja tanpa kompromi berarti. Fitur kait controller dan kalibrasi HDR otomatis adalah nilai tambah yang sulit ditolak. Untuk pengguna PC, monitor ini juga bekerja optimal berkat refresh rate tinggi dan port DisplayPort.
Jika Anda menginginkan monitor OLED di harga yang sama, Alienware AW2726DM bisa menjadi alternatif. Tapi untuk integrasi mulus dengan PS5, monitor ini adalah pilihan yang sangat direkomendasikan.