KEPULAUAN RIAU — Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tahun ini sudah mengambil beberapa langkah untuk menekan harga bahan bakar, termasuk memberikan pengecualian terhadap undang-undang maritim berusia seabad demi memperlancar pengiriman minyak antarwilayah AS. Namun lonjakan harga solar ke level US$6 per galon dan kenaikan bensin membuat opsi yang lebih radikal kembali dibahas di lingkaran kebijakan.
Gagasan yang dimaksud: melarang ekspor produk olahan minyak utama dari AS, mencakup solar, bensin, atau keduanya sekaligus. Nathan Risser dari Bloomberg News menyebut langkah ini "terkesan sulit diwujudkan, meski bukan mustahil."
Mengapa Larangan Ekspor BBM Muncul Lagi Sekarang
AS adalah eksportir produk olahan minyak terbesar di dunia. Setiap hari, kilang-kilang di Teluk Meksiko mengirim solar, bensin, dan jet fuel ke Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Ketika harga domestik naik, larangan ekspor jadi alat cepat untuk menahan pasokan di dalam negeri dan menekan harga di pompa bensin.
Faktor pendorongnya bersifat politik dan ekonomi sekaligus. Pemilihan umum paruh waktu mendekat, dan inflasi harga bahan bakar adalah isu yang paling langsung dirasakan pemilih. Pemerintahan Trump sudah mencoba cara yang lebih lunak — pengecualian aturan maritim untuk mempercepat distribusi minyak antarnegara bagian — tapi hasilnya belum cukup menurunkan harga di level yang diinginkan.
Preseden 2022 dan Alasan Kebijakan Ini Sulit Diterapkan
Wacana serupa pernah mencuat pada 2022 di era Presiden Joe Biden, ketika harga bensin melonjak pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu larangan ekspor dipertimbangkan serius, tapi akhirnya tidak diambil karena kekhawatiran terhadap reaksi sekutu dan dampak ke pasar global.
Ada beberapa alasan mengapa kebijakan ini terus dianggap opsi terakhir:
- Kilang AS tidak dirancang untuk memenuhi seluruh kebutuhan domestik — sebagian kilang justru bergantung pada ekspor agar tetap ekonomis beroperasi
- Negara sekutu di Eropa dan Amerika Latin bergantung pada solar AS — larangan ekspor bisa memicu krisis energi di sana dan merusak hubungan dagang
- Harga minyak mentah global bisa naik — pasar akan membaca langkah ini sebagai intervensi yang mengganggu keseimbangan pasokan dunia
- Preseden hukum dan WTO — pembatasan ekspor menghadapi risiko gugatan dagang internasional
Dampak ke Harga BBM Global dan Asia
Jika AS benar melarang ekspor solar, Eropa akan menjadi wilayah paling terpukul karena mereka adalah pembeli utama solar Amerika. Harga diesel di Belanda, Jerman, dan Inggris bisa melonjak dalam hitungan hari. Asia juga akan terdampak, meski tidak sebesar Eropa — Jepang, Korea Selatan, dan Singapura punya sumber pasokan alternatif dari Timur Tengah dan India.
Untuk Indonesia, dampak langsungnya lebih tidak langsung. Harga minyak mentah dunia yang naik sebagai reaksi akan memengaruhi biaya impor BBM Pertamina dan pada akhirnya subsidi energi. Namun besarnya dampak bergantung pada seberapa lama larangan diterapkan dan seberapa luas cakupannya.
Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya
Sampai sekarang belum ada keputusan resmi dari Gedung Putih soal larangan ekspor ini. Yang beredar masih sebatas wacana kebijakan yang dibahas di lingkaran pemerintahan. Bloomberg mencatat bahwa opsi ini muncul kembali karena tekanan harga yang tidak kunjung mereda menjelang pemilu.
Yang perlu dipantau: apakah pemerintahan Trump memilih jalur yang lebih lunak seperti insentif kilang atau pelepasan cadangan minyak strategis, atau benar-benar mengambil langkah pembatasan ekspor. Setiap pilihan punya konsekuensi politik dan ekonomi yang berbeda — baik di dalam AS maupun di pasar energi global.