KEPULAUAN RIAU — Kenaikan harga perangkat elektronik, termasuk ponsel pintar, yang dipicu kelangkaan chipset global masih berlanjut hingga tahun ini. Head of Operations Digiplus Erwin Renehan menyebut kenaikan harga di sejumlah merek mencapai 30% hingga 50%, sebuah tekanan yang memaksa industri ritel beradaptasi cepat.
Erwin menjelaskan tren kenaikan ini sebenarnya sudah terasa sejak akhir tahun lalu. Meski berdampak pada volume penjualan, pihaknya memilih fokus menjaga keterjangkauan produk bagi konsumen.
"Sudah dari awal tahun. Beberapa brand juga sudah mulai naik sejak akhir tahun lalu. Kenaikannya lumayan tinggi, sekitar 30% sampai 50%," ujar Erwin saat pembukaan gerai ke-100 Digiplus di Terogong, Jakarta Selatan, Jumat (28/8).
Untuk meredam efek kenaikan harga, Digiplus menggandeng lembaga pembiayaan nonbank (NBFI) dan mengoptimalkan skema buy now pay later (BNPL). Program cashback dari bank dan layanan tukar tambah atau trade-in juga diandalkan agar konsumen tidak menanggung beban kenaikan secara penuh.
"Kami menggalakkan partnership seperti NBFI, BNPL, cashback bank, dan trade-in untuk memastikan konsumen tetap lebih mampu membeli produk," kata Erwin.
Head of Marketing Digiplus Dwita Satyanti menilai pergeseran perilaku konsumen menjadi faktor yang menahan laju penurunan permintaan. Smartphone, menurutnya, sudah menjadi kebutuhan harian yang sulit dipisahkan dari aktivitas masyarakat.
"Handphone sekarang sudah menjadi kebutuhan utama, daily needs. Jadi bukan lagi sekadar kebutuhan sekunder atau tersier," ujar Dwita.
Untuk mengakomodasi daya beli yang beragam, Digiplus menyediakan pilihan perangkat dengan rentang harga luas, mulai sekitar Rp3 juta hingga Rp40 juta. Konsumen bisa menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan dan anggaran yang dimiliki.
Di tengah tantangan harga, Digiplus justru memperluas jaringan toko. Pembukaan gerai ke-100 di Terogong, Jakarta Selatan, menjadi penanda perubahan strategi ekspansi yang tidak lagi bergantung pada pusat perbelanjaan.
Head of Business Development Digiplus Muhammad Pranoto Utomo mengatakan perusahaan mulai merambah lokasi street level, termasuk ruko dan kawasan komersial di luar mal. Format toko pun dibuat beragam, dari gerai di mal, street level, shop-in-shop (SIS), hingga konsep one-stop shopping.
"Digiplus sebagai peritel multi-brand lebih fleksibel. Kami tidak hanya membuka toko di mal, tetapi juga mulai berekspansi ke street level," ujar Pranoto.
Ekspansi akan menyasar kota-kota utama seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Medan, dan Makassar, sekaligus merambah pasar kota lapis kedua dan ketiga. Targetnya, 150 gerai beroperasi hingga akhir 2026.
"Ke depan kita akan lebih tambah lagi untuk menjangkau customer kita yang ada di second tier sama third tier city market," ucap Pranoto.
Kombinasi perluasan titik penjualan dan alternatif pembayaran menjadi cara distributor mempertahankan permintaan di tengah kondisi harga yang tidak menentu. Bagi konsumen, strategi ini setidaknya memberi ruang untuk tetap mengganti perangkat lama tanpa harus membayar lunas di muka.