Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Natuna mencatat produksi gabah petani setempat meningkat hingga 3-3,5 ton per hektare pada musim panen tahun ini. Capaian tersebut naik dibandingkan rata-rata produksi sebelumnya yang berada di kisaran 2,5-3,5 ton per hektare, salah satunya didorong bantuan pembenahan tanah dari pemerintah daerah.
NATUNA — Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura bersama Wakil Bupati Natuna Jarmin memanen gabah kering di lahan seluas 10 hektare pada Selasa (1/9/2026). Lahan tersebut dikelola tiga kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Bunguran Batubi, yakni Poktan Ciptodadi enam hektare, Poktan Harapan Makmur 2,5 hektare, dan Poktan Melati Mekar Jaya 1,5 hektare.
Kepala DKPP Kabupaten Natuna Wan Syazali menyebut peningkatan produksi ini tidak terlepas dari bantuan pembenahan tanah berupa dolomit dan pupuk NPK 16.16.16 yang disalurkan Pemerintah Kabupaten Natuna.
"Peningkatan produksi ini salah satunya karena adanya bantuan pembenahan tanah berupa dolomit dan pupuk NPK 16.16.16 dari Pemerintah Kabupaten Natuna," ucapnya saat dikonfirmasi di Natuna, Rabu.
Pemerintah daerah menargetkan produksi gabah kering panen di Natuna mencapai sekitar 230 ton sepanjang 2026. Hingga akhir Juli 2026, produksi yang tercatat DKPP Natuna baru mencapai sekitar 127 ton.
Capaian tersebut berasal dari sejumlah wilayah penghasil, antara lain Kecamatan Serasan Timur, Bunguran Tengah, dan Batubi. Wan Syazali menambahkan produksi gabah di Natuna terus menanjak setiap tahun.
Pada 2024 produksi tercatat 113,68 ton, kemudian meningkat menjadi 219,69 ton pada 2025. Artinya, dalam dua tahun terakhir produksi gabah Natuna nyaris dua kali lipat.
Di balik tren positif tersebut, ketersediaan air masih menjadi kendala utama petani, khususnya ketika tanaman memasuki fase generatif atau saat padi mulai bunting dan mengeluarkan malai. DKPP Natuna merespons dengan melakukan pemantauan rutin ketersediaan air serta memastikan sarana pompanisasi yang telah diterima petani dapat digunakan secara optimal.
Pemerintah daerah juga mendorong inovasi budidaya melalui sistem Pertanian Modern - Advanced Agricultural System (PM-AAS). Pendampingan dilakukan oleh penyuluh pertanian dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan.
Petugas POPT bersama petani rutin menggelar Gerakan Pengendalian (Gerdal) organisme pengganggu tumbuhan untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit tanaman.
Dari sisi harga, gabah saat ini mengacu pada harga nasional Rp6.500 per kilogram. Di Natuna, Bulog telah menampung beras dengan harga Rp12.000 per kilogram, sehingga petani memiliki kepastian penyerapan hasil panennya.