KEPULAUAN RIAU — Hujan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau masih melanda sejumlah wilayah, termasuk Lampung dan Jabodetabek. Debu halus ini tak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga mengancam kesehatan mata. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena kerap mengucek mata tanpa sadar.
Khatrin Suci Saraswati (30), warga Tanggamus, Lampung, membagikan pengalamannya. Awalnya ia hanya merasa kelilipan lalu mengucek mata. Keesokan paginya, matanya memerah parah dan terasa sangat tidak nyaman.
"Saya memang domisili Tanggamus, Lampung. Awalnya dua hari lalu saya kelilipan lalu dikucek. Paginya mata sudah seperti di video," tuturnya, Selasa (8/9/2026).
Saat diperiksakan ke dokter, hasilnya mengejutkan. Partikel abu vulkanik yang keras dan tajam telah melukai permukaan mata. Akibatnya, pembuluh darah kecil di bagian putih mata (sklera) pecah.
Debu rumah cenderung lembut. Abu vulkanik memiliki tekstur seperti pecahan kaca yang sangat halus. Saat masuk ke mata dan digosok, gesekan partikel tajam ini bisa menyebabkan lecet pada kornea dan memicu pecahnya pembuluh darah kapiler.
Anak-anak lebih rentan karena refleks mengucek mata mereka tinggi. Jika dibiarkan, iritasi bisa berlanjut menjadi infeksi sekunder yang membahayakan penglihatan.
Jika Si Kecil atau Anda merasakan mata perih atau seperti ada pasir saat hujan abu terjadi, jangan panik. Hindari mengucek mata. Berikut pertolongan pertama yang bisa dilakukan di rumah:
Jangan menunggu sampai nyeri terasa tak tertahankan. Segera bawa ke dokter spesialis mata jika mengalami gejala berikut:
Pengalaman Khatrin menjadi pengingat penting. Penanganan yang salah seperti mengucek mata justru memperparah kondisi. Selalu sediakan air bersih dan cairan pencuci mata di rumah saat musim abu vulkanik melanda.
Untuk melindungi Si Kecil, pastikan ia memakai kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. Segera bersihkan wajah serta tangan setelah bermain di area yang terdampak abu vulkanik.