KEPULAUAN RIAU — Kabar ini datang dari laporan Automotive News yang mengutip sejumlah dealer McLaren yang menghadiri pertemuan tertutup dengan pabrikan. P34 disebut sebagai bagian dari rangkaian peluncuran model baru McLaren hingga 2028, sekaligus upaya memperbaiki citra merek setelah beberapa tahun terakhir diwarnai pergantian kepemilikan.
McLaren menempatkan P34 di antara Artura dan 750S. Artura sendiri sudah mengusung V6 hybrid, sementara 750S masih memakai V8 twin-turbo tanpa elektrifikasi. Artinya P34 bakal jadi jembatan antara dua karakter yang cukup berbeda di lineup McLaren saat ini.
Menariknya, tenaga gabungan P34 dikabarkan menyentuh sekitar 810 HP — melampaui 750S yang "hanya" 740 HP. Sumber tenaganya kombinasi V6 twin-turbo dan sistem hybrid, disalurkan lewat transmisi yang dikembangkan McLaren secara in-house.
Para dealer yang melihat langsung menyebut P34 lebih panjang dari Artura, dengan leading edge bergaya wedge yang mengingatkan pada McLaren F1 legendaris. Mesinnya bakal terlihat lewat cover tempered-glass — solusi visual yang jarang dipakai McLaren di model non-ultimate series.
Interiornya diklaim lebih mewah dari mayoritas lineup McLaren saat ini. Jok kulit, layar infotainment besar, dan kluster instrumen digital modern jadi tiga poin yang disebut dalam laporan tersebut.
Pergeseran ke arah kemewahan ini bukan kebetulan. CEO McLaren Nick Collins secara terbuka menyatakan fokusnya adalah membangun status merek, bukan mengejar angka penjualan jangka pendek.
"I want to be the brand that people are talking about — the products that people are falling in love with," ujar Collins kepada Automotive News pada Agustus lalu. "I'm not sitting there going, 'In the U.S. in 24 months, we want to sell X vehicles.' I want the enthusiasm, the engagement, the awareness growing over that period of time."
Pendekatan ini sejalan dengan rencana McLaren merilis SUV empat pintu tak lama setelah P34 — segmen yang jelas bukan wilayah tradisional pabrikan Woking.
Semua angka di atas masih berbasis bocoran dealer, bukan konfirmasi resmi McLaren. Spesifikasi final, harga pasti, dan waktu peluncuran bisa berubah — terutama mengingat McLaren sedang dalam fase restrukturisasi kepemilikan.
Soal pasar Indonesia, belum ada indikasi P34 akan masuk secara resmi. McLaren memang punya kehadiran terbatas di sini, tapi volume supercar hybrid di atas Rp 5 miliar sangat kecil. Pembeli potensial biasanya mengandalkan importir umum atau jalur khusus.
Yang jelas, P34 bakal jadi ujian pertama strategi Collins: apakah McLaren bisa menjual kemewahan dan gengsi tanpa kehilangan DNA performa yang bikin namanya diperhitungkan di dunia supercar.