BP Batam Sebut Hilirisasi Timah Merambah Industri Elektronik, Ekspor 100 Ton Ditargetkan 2027

Penulis: Saifuddin Wahid  •  Sabtu, 12 September 2026 | 10:28:31 WIB
Pekerja menunjukkan produk solder paste berbasis timah di fasilitas industri Batam.

Badan Pengusahaan (BP) Batam menyatakan hilirisasi timah di Kota Batam, Kepulauan Riau, mulai berkembang ke produk turunan industri elektronik berupa solder paste. Kerja sama PT Solder Team Andalan Indonesia (STANIA) dengan Asahi Solder disebut menjadi pintu masuk pengembangan rantai pasok elektronik di dalam negeri. Ekspor produk solder dari Batam ditargetkan menembus lebih dari 100 ton pada 2027.

BATAM — Badan Pengusahaan (BP) Batam menilai hilirisasi timah di Kota Batam tidak lagi berhenti di tahap material, tetapi sudah masuk ke pengolahan produk yang dibutuhkan industri elektronik. Produk turunan itu adalah solder paste atau pasta solder, bahan yang dipakai dalam proses perakitan komponen elektronik.

Penilaian tersebut disampaikan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait di Batam, Jumat, menanggapi kerja sama PT Solder Team Andalan Indonesia (STANIA) dengan Asahi Solder dalam pengembangan produk berbasis timah.

Dari Material Timah ke Pasta Solder

Ariastuty menyebut kerja sama itu sebagai langkah penting untuk memperluas hilirisasi komoditas timah di Batam. Menurut dia, material timah didatangkan dari luar, masuk ke Batam, diolah, lalu diekspor kembali ke luar negeri.

"Ini merupakan langkah luar biasa untuk investasi di Batam. Kami melihat hilirisasi timah tidak lagi berhenti pada material, tetapi sudah masuk ke tahap pengolahan menjadi produk yang dibutuhkan industri," kata Ariastuty.

Diversifikasi produk industri dinilai akan memperkuat struktur perekonomian Batam seiring bertambahnya investasi dan aktivitas manufaktur di kota itu.

Target Ekspor Lebih dari 100 Ton pada 2027

BP Batam memproyeksikan produk solder dari Batam menembus pasar ekspor lebih dari 100 ton pada 2027. Ariastuty menyebut pertumbuhan ekonomi dan keberagaman produk yang dihasilkan di Batam menjadi dasar ekspektasi tersebut.

"Ini juga akan nantinya ekspor lebih dari 100 ton di tahun 2027 mungkin ya. Kita ekspektasikan dengan pertumbuhan ekonomi akan semakin maju lagi dan semakin tinggi lagi, dan adanya keberagaman produk-produk yang dihasilkan di Batam," ujarnya.

Rantai Pasok Elektronik dan Ekosistem AI

Direktur Utama Arsari Tambang sekaligus Wakil Presiden Direktur Arsari Group Aryo P. S. Djojohadikusumo mengatakan pengembangan produk solder merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok industri elektronik di dalam negeri. Kebutuhan itu tumbuh seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).

STANIA merupakan bagian dari Arsari Tambang yang berfokus pada pengembangan industri solder dan material pendukung elektronik.

"Tahun ini kami juga sedang membangun pabrik pertama di Indonesia untuk GPU (Graphics Processing Unit) assembling, untuk merakit GPU dari mitra-mitra kami seperti Nvidia dan AMD. Membangun ekosistem AI tidak hanya membutuhkan computing dan connectivity, tetapi juga membutuhkan industri dan supply chain pendukungnya," kata Aryo.

Menurut dia, kerja sama dengan Asahi Solder diperlukan untuk mempercepat pengembangan rantai pasok tersebut. Asahi Solder dinilai memiliki pengalaman dan kapabilitas internasional dalam soldering serta electronic interconnect materials.

"Sudah waktunya Indonesia tidak lagi bergantung pada harga dunia, tetapi membangun ekosistem sendiri sehingga nilai tambah dari seluruh hasil tambang Indonesia bisa kita dapatkan. Itu yang kita maksud dari hulu ke hilir," ujarnya.

Reporter: Saifuddin Wahid
Sumber: kepri.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top