KEPULAUAN RIAU — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengebor 113 titik eksplorasi di tiga provinsi sepanjang Juli-September 2026 dengan biaya Rp 42,86 miliar. Eksplorasi ini untuk memverifikasi sumber daya dan cadangan batubara di tambang utama perusahaan. Langkah tersebut menjadi penopang produksi PTBA dalam beberapa tahun ke depan.
Paragraf pembuka: PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menggelontorkan Rp 42,86 miliar untuk pengeboran 113 titik eksplorasi sepanjang kuartal III 2026. Kegiatan ini tersebar di tiga lokasi tambang utama perusahaan, dengan porsi terbesar berada di Tanjung Enim Mining Site (TEMS), Sumatera Selatan.
Laporan keterbukaan informasi yang disampaikan Sekretaris Perusahaan PTBA, Eko Prayitno, Kamis (8/10/2026), menyebutkan kegiatan eksplorasi fokus untuk verifikasi sumber daya dan cadangan batubara. Anggaran terbesar dikucurkan ke TEMS yang menelan biaya Rp 33,04 miliar (unaudited).
Di TEMS, PTBA bersama kontraktor mengebor 76 titik dengan total kedalaman mencapai 19.283 meter. Pengeboran menyasar lima IUP sekaligus: Air Laya, Muara Tiga Besar (MTB), Banko Barat, Banko Tengah A, dan Banko Tengah B.
Dua wilayah lain menyusul. Di Ombilin Mining Site (OMS), Sumatera Barat, pengeboran dilakukan di 17 titik dengan kedalaman 2.647 meter dan biaya Rp 6,86 miliar. Sementara di Peranap Mining Site, Riau, ada 20 titik bor dengan kedalaman 1.490 meter dan biaya Rp 2,96 miliar.
“Kegiatan eksplorasi bertujuan untuk verifikasi sumber daya dan cadangan batubara di area TEMS,” ujar Eko.
Pengeboran di Peranap terdiri dari dua jenis. Pre-production drilling untuk meningkatkan akurasi model geologi, dan infill drilling untuk verifikasi cadangan. Dua metode ini memastikan data cadangan yang dipakai perusahaan benar-benar akurat sebelum masuk tahap produksi.
Di Ombilin, kegiatan serupa dijalankan untuk memutakhirkan data sumber daya batubara yang sudah ada. Wilayah ini termasuk tambang tua PTBA yang masih menyimpan potensi cadangan belum terverifikasi.
Jika ditambah kegiatan logging geofisika dan pengujian sampel, total belanja eksplorasi PTBA dalam tiga bulan (Juli-September 2026) mencapai Rp 42,86 miliar. Angka ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan operasi tambangnya.
Berbeda dengan induk usaha yang agresif, anak perusahaan PTBA, PT Internasional Prima Coal (PT IPC) di Samarinda, Kalimantan Timur, belum mengeksekusi rencana eksplorasi 2026. Kegiatan tersebut dijadwalkan baru berjalan pada 2027.
Keputusan menunda eksplorasi di IPC bisa jadi bagian dari strategi perusahaan mengatur prioritas belanja modal. PTBA tampaknya memilih fokus mengamankan cadangan di tiga tambang utama sebelum melebarkan aktivitas ke wilayah lain.
Penutup: Eksplorasi senilai Rp 42,86 miliar ini menjadi fondasi PTBA menjaga tingkat produksi batubara dalam beberapa tahun mendatang. Bagi investor, aktivitas pengeboran yang rutin menandakan perusahaan tidak hanya mengandalkan cadangan lama, tetapi aktif memverifikasi potensi baru di wilayah operasinya.