Kabut Asap Karhutla Sumatera-Kalimantan, Pesanan Wisata Singapura Turun 30%

Penulis: Muzakir Salim  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:21:01 WIB
Kabut asap dari karhutla Sumatera dan Kalimantan menurunkan kualitas udara Singapura hingga AQI 193.

KEPULAUAN RIAU — Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan dan Kalimantan menekan industri pariwisata Singapura, dengan sejumlah operator tur melaporkan penurunan pemesanan hingga 30 persen. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura mencatat kualitas udara tidak sehat pertama tahun ini pada 4 September, dan kondisi memburuk hingga indeks AQI menyentuh 193. Situasi ini memaksa pelaku wisata mengubah rute dan jadwal demi menjaga kenyamanan wisatawan.

Angin tenggara membawa partikel asap dari titik-titik panas di Sumatera Selatan dan Kalimantan melintasi Selat Malaka, dan Singapura menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Sejak pembacaan pertama Indeks Standar Polutan 24 jam menembus angka 101 di wilayah tengah pada 4 September, kualitas udara tidak pernah benar-benar pulih. Pada Selasa pagi, Singapura bahkan masuk daftar dua kota besar paling tercemar di dunia dengan AQI 193.

Dampaknya tidak berhenti di soal kesehatan pernapasan. Operator tur di Singapura mulai merasakan pembatalan dan penundaan pemesanan, terutama untuk aktivitas luar ruangan yang mengandalkan paparan udara terbuka.

Penurunan Pesanan Capai 30 Persen

Yeo Yen Ping, pendiri On A Roll Tour, menyebut beberapa bisnis pariwisata luar ruangan di Singapura mengalami penurunan pemesanan hingga 30 persen. Pemesanan untuk tur kick scooter dan jalan kaki turun 10-20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Yeo menambahkan harga hotel dan penerbangan yang lebih tinggi turut berkontribusi pada penurunan tersebut, bukan semata-mata faktor kabut asap.

Tur kick scooter biasanya menempuh jarak 8-10 kilometer. Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, Yeo merekomendasikan pelanggan beralih ke tur jalan kaki atau pengalaman di dalam ruangan.

Adaptasi Operator: Berburu Destinasi Ber-AC

Sejumlah operator mengubah rute dengan memasukkan lebih banyak pemberhentian ber-AC. Galeri Nasional, Victoria Theatre and Concert Hall, museum, dan Singapore City Gallery jadi opsi agar wisatawan tetap menghabiskan sebagian waktu di dalam ruangan.

Bagi perusahaan penyewaan kapal pesiar seperti Wanderlust Adventures, pilihan adaptasi jauh lebih sempit. Pelanggan menghabiskan sebagian besar waktu di perairan terbuka, dengan durasi sewa minimal empat jam.

Direktur Wanderlust Adventures Quek Wee Teck mengatakan bisnis telah turun 30 persen sejak September. Wisatawan menyumbang lebih dari setengah pelanggan perusahaan, dengan pengunjung dari Tiongkok, India, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Quek menyebut pihaknya biasanya menerima banyak turis China selama liburan Hari Nasional mereka yang dimulai 1 Oktober. Tahun ini, wisata pesiar miliknya mengalami penurunan tajam.

Tidak semua operator terpukul. Singapore River Cruise, yang menawarkan perjalanan 40 menit, mengaku tidak melihat perubahan signifikan dalam bisnisnya.

Operator Malaysia Ikut Beradaptasi

Langkah serupa diambil operator tur di Malaysia. Mint Leong, presiden Asosiasi Pariwisata Inbound Malaysia, mengatakan operator mempersingkat aktivitas luar ruangan dan menggantinya dengan kunjungan ke pusat perbelanjaan serta museum.

Pola ini menunjukkan kabut asap lintas batas tidak hanya berdampak pada satu negara, tetapi menuntut penyesuaian cepat di seluruh kawasan.

Dampak bagi Wisatawan Indonesia

Bagi traveler Indonesia yang berencana ke Singapura dalam periode ini, aktivitas luar ruangan seperti tur jalan kaki, kick scooter, atau pesiar perairan terbuka berisiko dibatalkan atau dijadwalkan ulang. Operator umumnya menawarkan alternatif dalam ruangan, tetapi ketersediaan dan jadwal bisa berubah cepat mengikuti kondisi udara.

Wisatawan disarankan memantau Indeks Standar Polutan harian dari Badan Lingkungan Nasional Singapura sebelum memesan tur, serta menyiapkan masker N95 untuk aktivitas di luar ruangan. Informasi terkini soal pembatalan dan kebijakan refund dapat dikonfirmasi langsung ke operator masing-masing.

Reporter: Muzakir Salim
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top