PLN EPI Mulai Campur Bio-CNG di PLTGU Belawan, Incar 10 Persen pada 2030

Penulis: Ridwan Azhari  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53:01 WIB
PLN EPI memulai pengiriman perdana Bio-CNG sebagai bahan bakar campuran di PLTGU Belawan pada 8 Oktober 2026.

KEPULAUAN RIAU — PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) resmi memulai pengiriman perdana Bio-CNG sebagai bahan bakar campuran di PLTGU Belawan, Medan, Sumatera Utara, pada 8 Oktober 2026. Langkah ini menjadi uji coba pemanfaatan gas terbarukan berbasis limbah kelapa sawit di pembangkit gas PLN, dengan target bauran Bio-CNG mencapai 10 persen pada 2030.

PLN EPI menempuh jalur panjang sebelum mengirim pasokan komersial pertama Bio-CNG ke PLTGU Belawan. Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyebut proses itu mencakup pengujian teknis, uji coba operasional, hingga studi kelayakan.

Pada tahap awal, Bio-CNG dipasok dari fasilitas produksi mitra PLN EPI, PT KIS Biofuels Indonesia. Proporsi campuran masih di bawah 2 persen dari total kebutuhan bahan bakar PLTGU Belawan.

Kontribusi Awal Masih Kecil, Ini Alasannya

Dampak Bio-CNG terhadap pembangkitan diperkirakan baru di kisaran bawah 1–2 megawatt (MW). Angka itu terbilang kecil untuk ukuran pembangkit besar, tetapi fungsinya sebagai pembuktian teknis.

PLN EPI memakai tahap awal ini untuk menguji perilaku biometana dalam operasional pembangkit. Dari situ, perusahaan bisa menilai seberapa jauh porsi gas terbarukan dapat dinaikkan tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik.

Hokkop menegaskan pengiriman perdana berlangsung secara kontraktual. "Pada 8 Oktober 2026, PLN EPI memulai pengiriman pertama Bio-CNG secara kontraktual untuk digunakan sebagai campuran bahan bakar pembangkit," kata Hokkop, Jumat (16/10/2026) malam.

Dari Limbah Pabrik Sawit Jadi Bahan Bakar Pembangkit

Bio-CNG atau Compressed Biomethane Gas dihasilkan dari pengolahan limbah organik, terutama Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit. Gas metana dari limbah itu dimurnikan menjadi biometana, lalu dikompresi agar bisa dipakai sebagai bahan bakar pembangkit.

Selain menjadi substitusi sebagian gas fosil, pemanfaatan Bio-CNG berpotensi menekan emisi metana dari pengolahan limbah organik. Syaratnya, gas tersebut ditangkap dan dimanfaatkan secara optimal, bukan dilepas ke atmosfer.

Indonesia dinilai punya modal besar untuk mengembangkan bahan bakar ini. Hokkop menyebut ada sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang berpotensi menjadi sumber POME.

Butuh 300 Pabrik Sawit untuk Rantai Pasok

PLN EPI menjajaki pengembangan fasilitas produksi Bio-CNG lewat kolaborasi dengan sejumlah pihak. Mulai dari pemilik pabrik kelapa sawit sebagai penyedia bahan baku, perusahaan teknologi pengolahan biogas, hingga mitra investasi.

"Perlu banyak mitra untuk penyediaan bahan baku, perlu juga mitra teknologi, dan mitra investasi bersama untuk mendukung pengembangan BioCNG," ujar Hokkop.

Menurut perhitungan PLN EPI, sekitar 300 pabrik kelapa sawit yang terlibat dalam rantai pasok sudah cukup memperluas pemanfaatan gas terbarukan di pembangkit PLN. Perusahaan juga memetakan potensi di luar Sumatera Utara: Lampung dari limbah peternakan, serta Riau dan Kalimantan dari limbah cair industri kelapa sawit.

Peluang di 200 Lebih Pembangkit Gas

Penerapan Bio-CNG tidak tertutup di PLTGU Belawan. Hokkop menyebut ada lebih dari 200 unit PLTG, PLTMG, dan PLTGU di Indonesia yang berpotensi memakai Bio-CNG, bergantung pada kesiapan teknis dan keekonomian masing-masing pembangkit.

"Setiap PLTG dan PLTMG memiliki potensi masing-masing untuk pengembangan energi hijau," tuturnya.

Secara nasional, pemanfaatan optimal limbah organik dan POME untuk produksi Bio-CNG diperkirakan menghasilkan energi setara sekitar 27 kargo LNG, atau sekitar 3 juta MMBtu per tahun. Angka itu menempatkan biometana sebagai salah satu sumber energi primer alternatif untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Sebagai langkah lanjutan, PLN EPI akan memetakan lokasi pembangkit yang berdekatan dengan sumber bahan baku. Kajian juga mencakup kesiapan teknologi, ketersediaan pasokan, infrastruktur distribusi, dan keekonomian proyek.

Bagi PLN, uji coba di Belawan menjadi pintu masuk untuk memperbesar porsi energi terbarukan di sektor pembangkitan gas. Keberhasilan menaikkan campuran Bio-CNG hingga 10 persen pada 2030 akan bergantung pada seberapa cepat rantai pasok dari pabrik kelapa sawit terbangun.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top