TANJUNGPINANG — Peluncuran Tanjak Pangan menyasar perubahan perilaku warga, dari yang semula boros pangan menjadi bijak pangan. Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPPP Kota Tanjungpinang Yesi Perdeawati menyebut angka sampah pangan di kota itu mencapai hampir 60 ton per hari. Kondisi itu dinilai perlu perhatian serius karena Tanjungpinang bukan daerah penghasil pangan.
Yesi mengatakan pihaknya mengajak masyarakat mengubah kebiasaan konsumsi yang berlebihan. "Kami mengajak masyarakat mengubah perilaku yang awalnya boros pangan menjadi bijak pangan," ucapnya.
Menurut Yesi, edukasi kepada sekolah dan penyedia makanan sudah membantu menekan sisa makanan dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Uji coba gerakan ini sebelumnya dilakukan di Kecamatan Tanjungpinang Barat.
Gerakan ini mendorong warga menerapkan tiga langkah sederhana dalam keseharian. Yesi merinci ajakan tersebut dalam pernyataannya.
"Ambillah makanan secukupnya dan habiskan, serta donasikan pangan yang masih layak konsumsi untuk masyarakat yang membutuhkan," kata Yesi.
Tanjak Pangan merupakan bagian dari gerakan nasional yang diterapkan di Tanjungpinang. Pelaksanaannya melibatkan perangkat daerah, perguruan tinggi, PKK, ASITA, FKUB, sekolah, hingga pelaku usaha kuliner.
Raja Ariza menegaskan upaya mengurangi makanan terbuang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Jajaran pemerintah, camat, RT/RW, masyarakat, hingga sekolah, terutama pelaksana Program MBG, diminta ambil bagian.
"Selama ini pangan kita kadang tersisa, pemanfaatannya kurang efektif. Karena itu, dibuat Gerakan Tanjak Pangan untuk mengajak kita menjaga pangan," kata Raja Ariza, dikutip dari laman resmi Pemko Tanjungpinang.
DPPP berharap Tanjak Pangan tidak berhenti di Kecamatan Tanjungpinang Barat. Perluasan ke seluruh kecamatan di Tanjungpinang menjadi target berikutnya.
Raja Ariza juga menyarankan agar sisa makanan tidak dibuang begitu saja dalam pelaksanaan program MBG. "Kita sarankan supaya sisa makanan tidak terbuang," ujarnya.