TANJUNGPINANG — Sejak 2015, listrik di Pulau Bintan hanya dipasok dari satu sumber utama, yakni Bright PLN Batam, anak usaha PT PLN (Persero). Kondisi itu dinilai Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kepri M. Darwin sebagai titik lemah yang harus segera diperbaiki.
Pulau Bintan mencakup wilayah Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang. Pelanggannya didominasi rumah tangga, industri, dan bisnis, sehingga kebutuhan daya tidak bisa ditopang satu pembangkit saja.
Darwin memaparkan dua langkah yang bisa ditempuh PLN untuk memperkuat kapasitas kelistrikan di Pulau Bintan. Opsi pertama, membangun pembangkit sendiri sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
Opsi kedua, menjalin kerja sama dengan pemegang wilayah usaha yang punya pembangkit berkapasitas besar. Dua kandidat yang disebut Darwin adalah PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) di Bintan dan PLTU Tanjung Sauh di Batam.
"Antara membangun atau kerja sama, tentu PLN akan mempertimbangkan kelaikan finansial dan operasi. Yang paling laik dan siap itu kerja sama, karena PLN tak perlu bangun pembangkit sendiri, apalagi menyiapkan lahan hingga perizinan," kata Darwin di Tanjungpinang, Rabu.
PLTU Tanjung Sauh berkapasitas 1 GigaWatt masih dalam tahap pembangunan. Meski begitu, PLN dan PLTU Tanjung Sauh sudah menandatangani kontrak pembelian listrik sebesar 150 MW untuk kebutuhan Pulau Bintan.
"Kalau pembangunan PLTU Tanjung Sauh lancar, di triwulan kedua 2027, energinya sudah bisa masuk ke Bintan," ungkap Darwin.
Dengan tambahan 150 MW, pasokan daya Pulau Bintan akan melebihi batas beban puncak yang berkisar 105-110 MW per hari. Artinya ada kelebihan daya 40 sampai 45 MW.
PT Bintan Alumina Indonesia saat ini mengoperasikan PLTU berkapasitas 160 MW. Perusahaan itu akan membangun lagi PLTU 600 MW menyusul masuknya dua perusahaan asing di kawasan ekonomi khusus tersebut.
Dari total 600 MW, sebanyak 300 MW ditargetkan rampung 2028. Sebanyak 100 MW di antaranya akan disuplai ke PLN melalui skema kerja sama jual-beli daya listrik untuk kebutuhan Pulau Bintan.
Kondisi terkini, Pulau Bintan hanya memiliki dua mesin pembangkit PLTD berkapasitas 35-37 MW, yakni PLTD Suka Berenang dan PLTD Air Raja. Pasokan itu jauh dari kebutuhan listrik Tanjungpinang dan Bintan.
"Saat situasi blackout kemarin, PLN mengoperasikan kedua PLTD ini untuk menerangi masyarakat secara bergantian," ucap Darwin.
Pemprov Kepri melalui Gubernur Ansar Ahmad juga berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk mencari solusi persoalan listrik. Masalah serupa tidak hanya terjadi di Pulau Bintan, tetapi juga di Natuna, Anambas, Lingga, dan Karimun yang tersebar di wilayah Kepri.