BATAM — Penandatanganan MoU berlangsung Rabu 28 Oktober 2026, melibatkan Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis dan pengelola kawasan. Kesepakatan mencakup pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan kawasan industri terintegrasi di Pulau Galang tersebut. Tahap awal dipusatkan pada 150 hektare lahan, sementara total area yang disiapkan mencapai 851 hektare.
“Hari ini kami menandatangani MoU untuk percepatan PSN di (pulau) Galang,” kata Fary Djemy Francis.
BP Batam bersama pengelola kawasan akan menyusun business plan untuk pengembangan lahan tahap awal. Percepatan perizinan juga disiapkan agar pembangunan infrastruktur dasar bisa segera berjalan. Infrastruktur terintegrasi yang dirancang mencakup pembangkit listrik dan penyediaan air untuk kawasan.
Proyek ini melibatkan konsorsium empat perusahaan, yakni Tynergy Technology Group, Quantum, Essence Global, dan Energy Tech. Pengembangan kawasan dilakukan dalam tiga tahap.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri sekaligus Presiden Direktur Wiraraja GESEIP Akhmad Ma'ruf Maulana menyebut sejumlah sektor sudah disiapkan. “Itu ada perusahaan semikonduktor dan pasir silika,” kata dia.
Nilai Rp175 triliun mencakup keseluruhan pengembangan proyek, bukan hanya tahap awal. Pekerjaan fisik dijadwalkan dimulai awal tahun depan.
“Cut and fill tahap awal kami targetkan satu tahun, mulai Januari tahun depan. Kami sudah melakukan pengecekan topografi, volume tanah di sana cukup tinggi sekali,” ujarnya.
Pengembangan kawasan dan industri diperkirakan menyerap 20.000 hingga 30.000 tenaga kerja. Sekitar 80 persen di antaranya ditargetkan berasal dari pekerja lokal. Sosialisasi ke masyarakat Galang disebut sudah berjalan lama sebelum MoU diteken.
“Kita sudah dari lama melakukan pendekatan ke masyarakat di sana. Kalau tidak, ini tidak mungkin terjadi,” kata Akhmad Ma'ruf Maulana.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad menilai MoU strategis dan mendesak dilaksanakan. Pertumbuhan investasi Batam semester I 2026 tercatat 7,28 persen.
“Saya pikir relevan juga dengan kondisi hari ini, bahwa saat ini kita harus menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan, dan Batam potensial untuk itu,” ujarnya.
Amsakar meyakini proyek PSN ini berjalan komplementer dengan pengembangan Rempang Eco City. Dua kawasan itu sama-sama diarahkan menjadi penopang industri hijau di Kepulauan Riau.