Wamen Stella Ungkap Kunci China Kuasai Mobil Listrik Dunia di PEVC 2026

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:53:01 WIB
Wamen Stella Christie menyampaikan sambutannya pada Periklindo Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

KEPULAUAN RIAU — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie membeberkan tiga faktor yang membuat China mendominasi industri mobil listrik global. Strategi China berbeda dari Jepang yang memilih hybrid dan Amerika Serikat yang lebih dulu maju di otomotif konvensional. Penjelasan itu disampaikan Stella dalam sambutannya di Periklindo Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Dominasi China di pasar kendaraan listrik dunia bukan hasil semalam. Stella menyebut riset yang kuat, pasokan talenta yang sesuai kebutuhan pasar, serta kebijakan pemerintah yang mendukung penelitian menjadi fondasi utama di baliknya.

"Seperti yang Anda ketahui, salah satu hal menarik yang saya pelajari adalah bagaimana Tiongkok dapat mendominasi dunia mobil listrik. Jawabannya adalah, ada riset yang luar biasa, ada pasokan talenta yang merespons kebutuhan pasar, dan di balik semua itu ada kebijakan yang mendukung penelitian," ujar Stella di hadapan peserta konferensi.

Dari Nol di Era 2000-an Menjadi Agenda Nasional

Pada awal 2000-an, kendaraan listrik di China nyaris tidak ada. Pemerintah kemudian menetapkan riset kendaraan listrik sebagai agenda nasional, lengkap dengan insentif yang tidak hanya menyasar pengguna tetapi juga kegiatan penelitian.

"Electric vehicle di tahun 2000-an di China hampir tidak ada. Tetapi karena menjadi satu agenda nasional bahwa riset khususkan untuk electric vehicle. Jadi ada banyak insentif bukan hanya untuk pemakai electric vehicle, tapi juga banyak insentif khusus untuk penelitian di bidang EV," kata Stella.

Kondisi itu berbeda dari negara lain yang sudah lebih dulu bergerak. Jepang memilih jalur hybrid, sementara industri otomotif Amerika Serikat sudah lebih matang pada teknologi konvensional.

Pilihan Strategi: Fokus pada Baterai Murah, Bukan Hybrid

China mengambil jalan berbeda untuk mengejar ketertinggalan. Fokus utamanya adalah teknologi baterai, bukan hybrid atau jalur elektrifikasi lain.

"Pilih strategi. Strateginya adalah salah satu yang sangat penting. Mereka fokus kepada battery. Jadi bukan yang lain-lain, juga gak pilih hybrid, gak pilih yang mana. Mereka pilih battery. Dikembangkanlah bagaimana caranya supaya risetnya mendapatkan battery listrik yang semurah-murahnya," lanjut Stella, yang juga guru besar di Tsinghua University, Beijing.

Kendaraan Berdaya Rendah dan Insentif Bus Jadi Langkah Paralel

Selain baterai, China mengembangkan kendaraan berdaya rendah sebagai tahap awal. Motor listrik dan mobil berukuran kecil dikembangkan lebih dulu, sementara pemerintah memberi insentif untuk penggunaan bus.

"Lalu juga strategi yang paralel yang dikembangkan pada waktu itu di China, di Tiongkok adalah mengembangkan kendaraan yang powernya rendah, low power. Seperti motor. Itu yang dikembangkan dulu. Atau kalau mobil, mobil kecil. Tapi juga ada waktu itu diberikan insentif untuk bus-bus," terang Stella.

Pelajaran untuk Indonesia: Strategi Sendiri, Bukan Menjiplak

Stella menegaskan Indonesia tidak perlu meniru mentah-mentah resep China. Yang dibutuhkan adalah strategi yang disusun sesuai kondisi pasar dan kemampuan riset dalam negeri.

"Jadi kita bukan harus menjiplak seperti itu, tetapi kita harus mempunyai strategi (sendiri)," ujarnya.

Pernyataan itu muncul di tengah dorongan pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, termasuk lewat insentif fiskal dan pembangunan infrastruktur pengisian daya.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top