BATAM — Rencana pembangunan pabrik amonia PT Pupuk Indonesia di Batam belum menetapkan lokasi pasti. Perusahaan masih mengevaluasi sejumlah kawasan potensial dengan mempertimbangkan kesesuaian lahan dan rencana pengembangan jangka panjang kawasan.
Ketersediaan gas alam menjadi faktor penentu lain. Gas berperan sebagai bahan baku utama produksi amonia, sehingga kepastian pasokan menjadi syarat sebelum proyek masuk tahap konstruksi.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyebut rencana ini muncul setelah BP Batam memaparkan agenda pembangunan ekosistem maritim. Salah satu komponennya adalah bahan bakar masa depan yang sebagian besar berupa amonia.
"BP Batam ternyata akan membangun ekosistem maritim yang di dalamnya itu ada future fuel, yang sebagian besarnya adalah amonia," kata Rahmad seusai bertemu BP Batam di Batam, Senin (2/11/2026).
Amonia mulai dilirik sebagai alternatif bahan bakar kapal. Pengembangannya sejalan dengan upaya industri pelayaran menekan emisi karbon, dan perubahan kebutuhan itu membuka peluang bisnis baru bagi kawasan pelabuhan.
Rahmad mencontohkan Singapura yang membangun industri pengolahan minyak dan layanan pengisian bahan bakar kapal selama puluhan tahun. Infrastruktur itu mengantarkan Singapura menjadi salah satu pusat layanan bahan bakar maritim dunia.
Menurut Rahmad, Batam berpeluang mengembangkan ekosistem serupa. Sejumlah negara di Asia Pasifik juga mulai menyiapkan fasilitas pelabuhan untuk mendukung pengisian bahan bakar amonia.
Kapasitas produksi yang dibidik mencapai tujuh juta ton per tahun. Rahmad menyebut kapasitas tersebut akan menjadi yang terbesar di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Asia Pasifik.
Pupuk Indonesia membuka peluang kerja sama dengan mitra asing dalam proyek ini. Perusahaan ingin industri berkembang di dalam negeri agar Indonesia memperoleh nilai tambah dari sumber daya alamnya.
"Yang kita inginkan apa? Nilai tambahnya ada di dalam negeri," ujar Rahmad.
Rahmad menegaskan rencana tersebut bukan upaya menutup keterlibatan investor asing. Pupuk Indonesia justru ingin mendorong industrialisasi sumber daya alam melalui kerja sama yang terbuka.
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan penjajakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah ingin menjadikan Batam sebagai contoh pertumbuhan ekonomi berbasis investasi.
BP Batam akan membantu kepastian lokasi dan mempercepat akses perizinan untuk pengalokasian lahan. Langkah berikutnya bergantung pada kesiapan proyek masuk kategori ready to invest atau siap investasi.
"Kalau sudah masuk dalam ready to invest BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia," kata Fary.
Jika proyek memenuhi tahap tersebut, kedua pihak akan membahas kebutuhan teknis dan langkah strategis pengembangan pabrik. Estimasi konstruksi tiga tahun baru berlaku setelah perusahaan memperoleh kepastian lahan dan ketersediaan bahan baku.