Google Berkomitmen Kembalikan Lebih Banyak Air ke Alam daripada yang Dipakai Data Center AI pada 2030

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 01:16:31 WIB
Google berkomitmen mengembalikan lebih banyak air ke alam dibanding yang digunakan data center AI pada 2030.

Dalam perluasan program "water stewardship" -nya, Google mengakui bahwa data center AI membutuhkan volume air yang besar untuk mendinginkan perangkat keras yang menjalankan model-model canggih. Meski perusahaan bersikeras dampak konsumsi air pusat datanya terhadap pasokan nasional AS tergolong "kecil", gelombang penolakan dari komunitas lokal memaksa mereka untuk bertindak lebih agresif.

Konsumsi Air Raksasa, Janji Kembalikan Lebih dari 100%

Google menargetkan pada 2030, volume air yang dikembalikan ke alam — melalui proyek restorasi — akan melampaui volume yang mereka konsumsi. Hingga 2025, perusahaan mengklaim sudah mengembalikan lebih dari 7 miliar galon air, setara dengan kebutuhan tahunan 70.000 rumah tangga AS.

Perusahaan saat ini mengelola 165 proyek pengelolaan air di 97 daerah aliran sungai (watershed). Jika seluruh proyek berjalan penuh, Google memperkirakan akan mengembalikan lebih dari 19 miliar galon air per tahun pada 2030 — dua kali lipat dari konsumsi mereka pada 2024. Jumlah itu disebut cukup untuk memasok kebutuhan air bersih seluruh kota Los Angeles selama lebih dari 40 hari.

Investasi Infrastruktur Air untuk Tetangga Data Center

Selain proyek restorasi, Google berkomitmen membantu modernisasi infrastruktur air dan limbah publik di sekitar pusat datanya. Hingga saat ini, perusahaan telah mengucurkan lebih dari 500 juta dolar AS untuk pengembangan infrastruktur air, air limbah, dan sistem daur ulang air di komunitas tempat mereka beroperasi.

Proyek-proyek ini mencakup peningkatan pasokan air lokal hingga deteksi kebocoran pipa. "Kami berkomitmen terus membantu perusahaan utilitas lokal memperbarui infrastruktur mereka," tulis Google dalam pernyataan resminya.

Pilih Pendingin Udara di Wilayah Rawan Kekeringan

Google juga mengubah pendekatan teknis dalam pembangunan data center baru. Sebelum membangun, perusahaan akan menilai kondisi daerah aliran sungai setempat menggunakan kerangka kerja berbasis data. Jika sumber air lokal berisiko tinggi, Google akan memilih sistem pendingin udara (air-cooled) atau menggunakan air daur ulang.

"Kami hanya akan mempertimbangkan pendinginan berbasis air jika sumber daya lokal sehat dan tangguh," kata Google. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap kritik bahwa data center AI sering dibangun di wilayah yang justru mengalami krisis air.

Transparansi dan Air Alternatif

Google berjanji untuk terus melaporkan konsumsi air tahunan di setiap lokasi data center secara transparan. Perusahaan mengklaim sebagai penyedia cloud besar pertama yang membuka data tersebut ke publik.

Di sisi lain, Google mulai menggunakan air limbah olahan sebagai alternatif. Contohnya di Douglas County, Georgia, mereka bekerja sama dengan otoritas setempat untuk memanfaatkan air limbah yang telah diolah untuk sistem pendingin di kampus data center mereka.

Dengan total 165 proyek yang sudah berjalan dan tambahan 17 juta dolar AS untuk proyek baru di Georgia, Iowa, Michigan, Minnesota, Missouri, Nebraska, dan Texas, Google berusaha membuktikan bahwa ekspansi AI tidak harus mengorbankan sumber daya air masyarakat.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: 9to5google.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top