Fitur DM ini bukan barang baru bagi YouTube. Platform besutan Google itu sebelumnya pernah meluncurkan fitur serupa pada 2017, namun kemudian dihapus dua tahun berselang pada 2019. Kala itu, YouTube beralasan ingin memusatkan interaksi pengguna di ruang publik, yakni kolom komentar. Kini, perusahaan membalikkan keputusan itu setelah mendengar masukan dari komunitasnya.
Dalam pengumuman resminya, YouTube menyebut fitur berkirim pesan langsung menjadi salah satu permintaan fitur tertinggi dari para penggunanya. Uji coba yang berlangsung di Eropa sejak Maret lalu disebut mendapatkan respons positif, sehingga ekspansi ke pasar AS menjadi langkah logis berikutnya.
“Ini membangun umpan balik positif dari negara-negara tempat fitur ini telah aktif selama beberapa bulan terakhir,” demikian pernyataan YouTube dalam siaran persnya.
Untuk mencoba fitur ini, pengguna di AS cukup mengetuk tombol Messages yang muncul di pojok kanan atas aplikasi YouTube. Selanjutnya, pilih “Invite to chat” dan kirim undangan ke pengguna lain yang ingin diajak bicara. Penerima undangan memiliki kendali penuh untuk Accept atau Decline permintaan tersebut.
Satu catatan penting: fitur ini hanya tersedia untuk pengguna yang berusia 18 tahun ke atas. YouTube belum mengungkapkan apakah batasan usia ini akan tetap diterapkan jika fitur dirilis secara global nantinya.
YouTube sadar betul bahwa penggunanya sudah terbiasa menggunakan berbagai aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, Telegram, atau iMessage. Oleh karena itu, perusahaan menegaskan bahwa fitur DM ini bukanlah pengganti aplikasi-aplikasi tersebut. Tujuan utamanya lebih sederhana: memudahkan pengguna berbagi video YouTube atau Reels secara langsung tanpa harus meninggalkan aplikasi.
“Kami tetap memudahkan Anda untuk mengirim video melalui aplikasi lain meskipun Anda kini menjadi bagian dari percobaan ini,” tulis YouTube dalam pengumumannya.
YouTube berjanji akan terus memperluas uji coba fitur DM ini ke lebih banyak negara di masa mendatang. Namun, hingga saat ini belum ada jadwal pasti kapan pengguna di Indonesia bisa menikmati fitur tersebut. Yang jelas, bagi pengguna Indonesia yang penasaran, belum ada cara untuk mengakali atau mengaktifkannya secara manual — fitur ini bergantung pada pengaturan server regional dari pihak YouTube.
Jika uji coba di AS berjalan mulus, bukan tidak mungkin Indonesia masuk dalam daftar negara berikutnya. Apalagi, Indonesia merupakan salah satu pasar YouTube terbesar di dunia dengan jumlah pengguna aktif yang sangat tinggi.