Kepastian ini disampaikan Shakil Barkat, Wakil Presiden Devices and Services Google, dalam sebuah wawancara pekan lalu. Barkat tidak merinci besaran kenaikan, namun menegaskan bahwa harga akan “diterapkan secara dinamis untuk menyesuaikan dengan realitas pasokan.” Langkah ini sejalan dengan tren industri: Apple telah mengonfirmasi kenaikan harga untuk jajaran iPhone terbarunya, sementara Samsung baru saja meluncurkan ponsel lipat generasi terbaru dengan harga lebih mahal setidaknya 100 dolar AS dibanding model tahun lalu.
Bukan Sekadar Menebus Biaya, Google Ubah Strategi Software
Yang menarik, Google tidak hanya pasif meneruskan beban biaya ke konsumen. Barkat mengungkapkan adanya “upaya khusus” untuk menekan kebutuhan memori di seluruh ekosistem Android dan aplikasi. Tujuannya: memungkinkan perangkat berjalan dengan RAM lebih sedikit tanpa mengorbankan pengalaman pengguna.
“Kami secara agresif merekayasa jalan keluar melalui tantangan ini,” ujar Barkat, merujuk pada inisiatif internal yang menyandingkan optimasi sistem operasi dengan efisiensi hardware.
Pixel 11 Pro Berpotensi Alami Penurunan RAM
Keputusan ini muncul di tengah rumor bahwa beberapa varian Pixel 11 Pro justru akan memiliki RAM lebih kecil dibanding Pixel 10 Pro. Jika seluruh model Pixel 10 Pro—termasuk versi 128GB—dibekali 16GB RAM untuk mengoptimalkan kinerja AI lokal, maka Pixel 11 Pro 256GB diperkirakan hanya akan membawa 12GB RAM. Opsi 16GB kabarnya hanya akan tersedia untuk varian 512GB dan 1TB yang lebih mahal.
Untuk mengantisipasi kritik, Google berjanji membuat Android lebih hemat RAM. Namun tantangan nyata ada pada beban kerja Gemini Nano, model AI yang semakin besar dan kompleks. Meskipun Google diperkirakan akan menyematkan TPU yang lebih efisien untuk komputasi on-device, belum jelas apakah perangkat 12GB akan memiliki keterbatasan tugas yang tidak dimiliki versi 16GB.
Dampak ke Ponsel Murah: RAM 4GB Kembali Jadi Kenyataan?
Konsekuensi paling menarik justru terjadi di segmen entry-level. Dengan harga komponen yang melonjak, ekonomi pembuatan ponsel Android murah berubah drastis. Produsen mungkin terpaksa menurunkan kapasitas RAM perangkat sub-200 dolar AS menjadi 4GB atau 6GB. Nothing, misalnya, sudah membatalkan salah satu perangkatnya akibat krisis RAM ini. Bisa dipastikan, Nothing bukan satu-satunya korban.
Warisan Proyek Efisiensi Android: Dari Butter, Svelte, hingga Mainline
Google sebenarnya bukan pendatang baru dalam urusan efisiensi. Pada 2012, Project Butter membuat Android 4.1 Jelly Bean terasa mulus di berbagai ukuran layar. Setahun kemudian, Project Svelte di Android 4.4 KitKat secara khusus menargetkan perangkat dengan RAM 1GB atau kurang. Project Treble (2017) dan Project Mainline (2019) kemudian mempermudah pembaruan sistem tanpa bergantung penuh pada vendor chip.
Saat ini, pembaruan Android mungkin terasa lebih rutin dan kurang spektakuler. Tapi situasi ini bisa berubah. Dengan Apple yang tahun ini menggebrak lewat fokus pada performa dan stabilitas di iOS 27, Google memiliki panggung untuk melakukan hal serupa. Meski langkah ini lahir dari masalah harga yang turut diciptakannya sendiri, efisiensi Android tetaplah kabar baik bagi pengguna—terutama di pasar negara berkembang seperti Indonesia, di mana ponsel dengan RAM terbatas masih menjadi tulang punggung adopsi teknologi.