Pada akhir 1990-an, Apple belum menjadi raksasa seperti sekarang. Namun ketika Pentagon menyebut Power Mac G4 sebagai ancaman keamanan nasional, Steve Jobs melihat peluang emas. Bukan untuk protes, melainkan untuk menjual.
Power Mac G4 yang dirilis pada 1999 bukan sekadar komputer biasa. Dengan prosesor 400 MHz dan arsitektur Velocity Engine yang mampu memproses data dalam kecepatan tinggi, Pentagon menilai perangkat ini memiliki kemampuan komputasi setara dengan superkomputer militer. Akibatnya, ekspor G4 dilarang ke negara-negara yang dianggap berisiko, termasuk China, Rusia, dan India.
Ini pertama kalinya dalam sejarah sebuah PC pribadi diklasifikasikan sebagai senjata oleh pemerintah AS. Bagi Apple, keputusan itu bisa berarti bencana ekspor. Tapi Jobs justru membalikkan situasi.
Alih-alih menyembunyikan larangan itu, Apple justru memamerkannya. Dalam presentasi produk dan materi pemasaran, perusahaan menyebut G4 sebagai "superkomputer pribadi" yang begitu canggih sampai Pentagon takut menyebarkannya ke luar negeri. Jobs bahkan membacakan pernyataan resmi Pentagon di atas panggung, membuat audiens terkesima.
Strategi ini bekerja dengan sempurna. Konsumen melihat larangan ekspor sebagai bukti keunggulan teknologi, bukan sebagai hambatan regulasi. Penjualan domestik Power Mac G4 justru melonjak karena orang ingin memiliki komputer yang dianggap setara dengan senjata militer.
Kisah ini kembali relevan di tengah ketegangan teknologi AS-China saat ini. Ketika pemerintah AS membatasi ekspor chip AI Nvidia dan peralatan semikonduktor ke China, pendekatan Apple pada 1999 menjadi studi kasus tentang bagaimana perusahaan bisa merespons tekanan geopolitik.
Namun ada perbedaan mendasar. Era Jobs, larangan ekspor justru memperkuat citra produk. Di era modern, embargo seperti yang dialami Huawei justru memutus akses ke rantai pasok global dan memaksa perusahaan mencari jalur mandiri. Dua dekade kemudian, taktik pemasaran jenius Jobs masih dikenang — tapi tidak mudah ditiru.