NATUNA — Pemerintah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, telah menyiapkan lahan hampir 20 hektare sebagai lokasi pembangunan Sekolah Garuda. Wakil Bupati Natuna Jarmin mengatakan lahan tersebut berada di kawasan dekat Kantor Bupati dan telah disiapkan untuk mendukung pembangunan sarana dan prasarana sekolah.
"Kami sudah menyiapkan lahan hampir 20 hektare di dekat Kantor Bupati. Persiapan ini dilakukan sebagai bentuk keseriusan daerah, apakah nanti Natuna terpilih atau tidak, yang jelas kami sudah siap," ujar Jarmin di Natuna, Selasa.
Sekolah Garuda merupakan program sekolah menengah atas unggulan berasrama yang dirancang pemerintah pusat. Sekolah ini bertujuan mencetak generasi muda berprestasi di bidang sains, teknologi, kepemimpinan, dan akademik.
Menurut Jarmin, pemerintah daerah terus berupaya agar Sekolah Garuda dapat dibangun di Natuna. Keberadaan sekolah tersebut diyakini memberikan manfaat besar bagi masyarakat setempat, terutama dalam memperluas akses pendidikan berkualitas bagi pelajar Natuna.
Selain sektor pendidikan, pembangunan Sekolah Garuda juga diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Jarmin menjelaskan bahwa proses konstruksi akan meningkatkan kebutuhan bahan bangunan yang dapat dipenuhi dari daerah.
"Bila pembangunan terealisasi, kebutuhan material dapat disuplai dari daerah dan peluang kerja juga akan terbuka sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," katanya.
Bupati Natuna Cen Sui Lan bersama jajaran pemerintah daerah terus berupaya mendorong pembangunan melalui dukungan anggaran dari Pemerintah Pusat. Jarmin mengakui bahwa kemampuan keuangan daerah masih terbatas akibat penundaan penyaluran dana bagi hasil dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini berdampak pada pelaksanaan pembangunan daerah. Sejumlah program pembangunan pada 2025 hingga 2026 belum dapat berjalan secara optimal.
Jarmin menyebutkan pemerintah daerah masih memiliki kewajiban kepada pihak ketiga sekitar Rp180 miliar yang berasal dari 2024. Namun, sebagian besar kewajiban tersebut telah diselesaikan dan kini tersisa sekitar Rp30 miliar.
"Pada 2025 kami menghadapi kondisi keuangan yang cukup berat. Namun sebagian besar kewajiban kepada pihak ketiga sudah berhasil dibayarkan dan kini tersisa sekitar Rp30 miliar," kata Jarmin.