TANJUNGPINANG — Selama ini, Batam, Bintan, dan Karimun atau yang dikenal dengan sebutan BBK menjadi primadona investasi di Kepulauan Riau. Statusnya sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) membuat ketiga daerah itu mendominasi masuknya modal, terutama di sektor industri pengolahan dan pariwisata.
Namun, pemerintah provinsi kini menggeser fokus. Hasfarizal Handra mengatakan pihaknya gencar menawarkan potensi investasi di daerah lain yang selama ini belum tergarap maksimal. Salah satu caranya melalui temu bisnis yang melibatkan pelaku usaha lokal dan pengusaha asal Malaysia.
Hasfarizal memaparkan, Natuna memiliki peluang investasi yang konkret. Kebutuhan dasar seperti penyediaan air bersih untuk 1.000 sambungan rumah menjadi salah satu proyek yang ditawarkan. Selain itu, sektor maritim seperti kapal domestik dan internasional juga terbuka lebar.
Yang tak kalah menarik adalah potensi hilirisasi perkebunan kelapa. Dengan produksi mencapai 500 ribu biji per tahun, permintaan pasar terhadap produk turunan seperti copra charcoal, virgin coconut oil, briket, dan kerajinan tangan dinilai masih sangat tinggi. "Natuna juga dekat dengan jalur perdagangan internasional," ujar Hasfarizal.
Di Lingga, pemerintah menyiapkan Pulau Katang sebagai destinasi wisata kelas atas. Konsep yang diusung adalah second home luxury atau rumah kedua yang mewah, lengkap dengan berbagai fasilitas premium. Sementara itu, Kepulauan Anambas mengandalkan pesona wisata bahari, salah satunya Pulau Bawah yang sudah dikenal di kalangan wisatawan mancanegara.
Meski fokus meluas, pengembangan di Bintan dan Karimun tetap berjalan. Di Bintan, proyek pariwisata dan perhotelan terus didorong, meliputi pembangunan resort, kondotel, hotel berbintang, taman air, hingga Green Bamboo Village yang mengusung konsep alam berkelanjutan. "Fasilitas pendukung seperti vila, restoran, akses jalan, dan area mangrove sudah tersedia," kata Hasfarizal.
Untuk Karimun, peluang investasi meliputi sektor energi seperti penyimpanan dan pengilangan minyak dan gas, perikanan dan rantai dingin, operasi terminal dan pergudangan, hingga energi baru terbarukan. Karimun memiliki lahan industri seluas 120 hektare, garis pantai sepanjang 1.503 meter, dan kolam pelabuhan seluas 950.000 meter persegi yang mampu melayani kapal berkapasitas 50.000 DWT.
Hasfarizal optimistis geliat investasi akan terus meningkat. Ia menyebut realisasi investasi Kepri sepanjang 2025 mencapai Rp 64,68 triliun. Angka itu terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 43,44 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 21,24 triliun.
Capaian tersebut melampaui target daerah sebesar 136 persen dan target Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar 112 persen. Menurutnya, kemudahan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) menjadi salah satu kunci keberhasilan.
"Tugas kami mempermudah, memperlancar, dan bertanggung jawab terhadap proses perizinan guna mendukung pelaku usaha berinvestasi di Kepri," ujar Hasfarizal. Ia juga mengajak masyarakat menjaga kondusivitas di lapangan agar investor merasa aman, karena investasi yang masuk akan berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal.