KEPULAUAN RIAU — Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka melemah 164,46 poin atau 0,31 persen ke level 53.567,95. S&P 500 turun tipis 0,14 persen ke 7.775,01, sementara Nasdaq Composite hanya terkoreksi 0,01 persen ke 26.726,73.
Pasar saham AS menghadapi dua sentimen yang saling tarik menarik. Di satu sisi, ketegangan geopolitik Timur Tengah mendorong aksi lindung nilai, namun di sisi lain, prospek bisnis kecerdasan buatan (AI) kembali memicu minat investor pada saham-saham teknologi.
Ancaman Iran di Selat Hormuz Mengerek Harga Minyak
Kekhawatiran utama pasar datang dari pernyataan pejabat senior Iran kepada Reuters. Teheran mengisyaratkan akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya jika diplomasi dengan AS gagal, sebuah sinyal pergeseran kebijakan dari bertahan menjadi menyerang.
Ancaman tersebut langsung merespons harga komoditas. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik sekitar 0,4 persen, yang turut mendorong indeks sektor energi S&P 500 menguat 0,2 persen di tengah pelemahan indeks utama lainnya.
Saham Teknologi Tetap Bertenaga Berkat Optimisme AI
Di tengah tekanan geopolitik, sektor teknologi masih menunjukkan ketahanan. Laporan mengenai proyeksi pendapatan yang kuat dari laboratorium AI, Anthropic, menjadi katalis yang mendorong kenaikan sejumlah saham teknologi pada awal sesi.
Kabar ini memberikan angin segar bagi investor yang khawatir terhadap valuasi mahal di sektor AI. Sentimen positif dari Anthropic dinilai mampu menopang Nasdaq yang hanya terkoreksi tipis, jauh lebih baik dibandingkan Dow Jones yang terdampak langsung oleh risiko energi.
Pasar kini menunggu perkembangan diplomasi AS-Iran sebagai penentu arah pergerakan selanjutnya. Investor cenderung mengambil posisi defensif, mengingat potensi gangguan pasokan minyak global dapat memicu inflasi dan mengubah proyeksi suku bunga The Fed.
Investasi mengandung risiko.