NATUNA — Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir Agustus 2026 tengah melakukan pendataan terhadap seluruh pelaku usaha di wilayah perbatasan ini. Sensus tersebut menyasar pelaku usaha dari skala besar, usaha kecil, hingga usaha rumahan untuk memotret struktur dan potensi ekonomi secara menyeluruh.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menyatakan optimisme terhadap akurasi data yang akan dihasilkan. Menurutnya, waktu pengumpulan data yang panjang dan jumlah petugas yang dikerahkan sebanyak 95 orang menjadi jaminan kualitas pendataan.
"Saya mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk memberikan jawaban dan data yang benar. Dengan jawaban itu kita bisa melihat pertumbuhan ekonomi," ujar Cen Sui Lan di Natuna, Selasa.
Keputusan ini diambil dengan latar belakang realitas fiskal yang unik. Meskipun pertumbuhan ekonomi Natuna pada 2025 tercatat sangat tinggi, mencapai 10,49 persen jika sektor minyak dan gas (migas) diperhitungkan, pendapatan dari sektor tersebut tidak langsung dirasakan daerah.
"Pertumbuhan ekonomi kita memang banyak didukung sektor migas sehingga terlihat tinggi. Namun, pendapatan dari migas tidak langsung dinikmati daerah karena masuk ke pusat terlebih dahulu, baru kemudian dialokasikan kembali," jelas bupati.
Oleh karena itu, Sensus Ekonomi 2026 dinilai sebagai langkah strategis untuk memetakan potensi ekonomi nonmigas yang benar-benar bisa dikembangkan. Data ini akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menentukan alokasi anggaran yang tepat sasaran.
Pemkab Natuna menargetkan data sensus akan memudahkan penyusunan tiga hal utama: pembangunan infrastruktur yang sesuai kebutuhan, program pemberdayaan UMKM yang lebih terarah, serta penciptaan lapangan kerja baru yang berbasis potensi lokal.
Dengan data yang akurat, pemerintah berharap setiap rupiah anggaran pembangunan bisa berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya menguntungkan sektor hulu migas yang pengelolaannya berada di tangan pusat.