KEPULAUAN RIAU — Kebijakan ini diumumkan dalam siaran pers resmi pemerintah pada 3 Juli lalu, bersamaan dengan paket reformasi ekonomi yang lebih luas. Program yang sebelumnya berskala terbatas ini kini diperluas cakupannya, memungkinkan lebih banyak keluarga dengan pendapatan di bawah ambang batas tertentu untuk bisa menyewa kendaraan listrik dengan biaya serendah mungkin.
Peningkatan subsidi menjadi komponen kunci dari perluasan ini. Meski angka pasti nominal subsidi belum dirinci dalam pengumuman awal, pemerintah Prancis menegaskan bahwa alokasi dana untuk program ini dinaikkan secara signifikan. Targetnya adalah menekan biaya sewa bulanan hingga di bawah €100 (sekitar Rp1,6 juta) per bulan untuk model-model EV entry-level.
Program ini sebelumnya sukses menarik minat puluhan ribu pemohon dalam waktu singkat. Dengan perluasan ini, pemerintah berharap dapat mengakomodasi lonjakan permintaan yang sempat membuat sistem kewalahan pada peluncuran perdana tahun lalu.
Fokus pada kelompok berpenghasilan rendah bukan tanpa alasan. Data Kementerian Transisi Ekologi Prancis menunjukkan bahwa biaya awal pembelian EV masih menjadi hambatan utama adopsi massal. Sementara insentif pembelian langsung lebih banyak dinikmati kelas menengah ke atas yang mampu membeli mobil baru.
Dengan model sewa bersubsidi, pemerintah ingin memastikan bahwa transisi energi tidak hanya menguntungkan kelompok mampu. "Ini soal keadilan ekologis," demikian bunyi salah satu pernyataan dalam siaran pers tersebut. "Setiap warga negara berhak mendapatkan akses terhadap mobilitas bersih tanpa terbebani biaya selangit."
Meski diperluas, program ini tetap menerapkan kriteria seleksi yang ketat. Calon peserta harus memenuhi syarat pendapatan tahunan rumah tangga maksimal tertentu, serta berkomitmen menggunakan kendaraan untuk kebutuhan sehari-hari dengan batas jarak tempuh tahunan. Mobil sewaan juga wajib dikembalikan dalam kondisi baik setelah masa kontrak berakhir.
Konsekuensinya, daftar tunggu diprediksi masih panjang. Pengalaman dari program serupa di Jerman dan Norwegia menunjukkan bahwa minat terhadap EV murah selalu melampaui kuota yang tersedia. Pemerintah Prancis sendiri belum mengumumkan batas maksimal peserta untuk tahun ini.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bagi industri otomotif Eropa. Produsen seperti Renault, Stellantis, dan Tesla yang memiliki model EV kompak dipastikan akan menjadi pemasok utama untuk program sewa ini. Di sisi lain, kebijakan ini juga menekan harga jual EV di pasar sekunder karena pasokan mobil bekas sewa akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Indonesia, skema subsidi sewa ala Prancis bisa menjadi referensi. Mengingat harga EV di dalam negeri masih terbilang tinggi, model pembiayaan berbasis langganan (subscription) atau sewa jangka panjang mungkin lebih realistis untuk menjangkau pembeli kelas menengah bawah dibandingkan potongan harga langsung yang saat ini diterapkan.