Pencarian

7 Kuliner Khas Kepulauan Riau yang Wajib Dicoba, dari Mie Tarempa hingga Gonggong

Jumat, 03 Juli 2026 • 15:50:02 WIB
7 Kuliner Khas Kepulauan Riau yang Wajib Dicoba, dari Mie Tarempa hingga Gonggong
Mie Tarempa khas Natuna dengan kuah kari santan dan rempah utuh siap menggoda selera.

Pulau Penyengat di Tanjungpinang menyimpan satu rahasia dapur yang jarang ditulis di brosur turis: Mie Tarempa. Bukan sembarang mi rebus, hidangan ini pakai mi kuning tebal buatan sendiri yang kenyal, disiram kuah kari kental berbumbu rempah utuh—kapulaga, cengkeh, kayu manis. Saya pertama kali mencobanya di warung dekat Masjid Raya Sultan Riau, pukul tujuh pagi. Porsinya kecil, tapi rasa kaldu udangnya langsung membekas. Satu mangkuk di sana masih Rp 15.000—Rp 20.000 pada Februari 2026. Kalau Anda ke Tanjungpinang, jangan lewatkan sarapan ini sebelum naik perahu ke Pulau Penyengat.

1. Mie Tarempa: Mi Kuning Berkuah Kari dari Natuna

Mie Tarempa aslinya dari Kecamatan Tarempa, Kabupaten Natuna. Mi ini tidak pakai mie instan, melainkan mi segar yang direbus sebentar lalu diguyur kuah kari berbasis santan dan kunyit. Isiannya: tauge, telur rebus, dan udang kecil utuh.

Lokasi paling mudah ditemukan di Pasar Bukit Kijang, Tanjungpinang. Buka dari jam 6 pagi hingga 10 pagi. Harga per porsi Rp 18.000. Tips: minta sambal lado hijau terpisah—pedasnya segar, bukan panas semata.

2. Gonggong: Siput Laut Rebus yang Jadi Ikon Batam

Gonggong adalah siput laut endemik perairan Batam dan Bintan. Dagingnya putih, teksturnya mirip kerang darah tapi lebih kenyal. Cara makannya unik: tusuk ujung siput dengan lidi, tarik perlahan, lalu celupkan ke saus sambal asam manis.

Di Batam, gonggong paling enak dicari di Nagoya Food Street atau Pasar Projodadi. Satu porsi (15-20 ekor) Rp 30.000—Rp 45.000. Buka siang hingga malam. Jangan khawatir bau amis—gonggong segar tidak berbau, asal direbus dengan serai dan daun jeruk.

3. Nasi Lemak Kepri: Bukan Sekadar Nasi Santan Biasa

Nasi lemak di Kepri berbeda dari versi Malaysia. Nasi dimasak dengan santan encer, daun pandan, dan sedikit garam. Lauknya: ikan bilis goreng kering, telur rebus setengah matang, sambal terasi pedas manis, dan irisan timun. Yang membedakan adalah sambalnya—pakai cabai rawit merah utuh yang ditumis dengan belacan.

Warung Nasi Lemak Mak Ani di Bengkong, Batam, buka 24 jam. Satu porsi komplet Rp 12.000. Cocok untuk sarapan atau lauk tengah malam setelah jalan-jalan di Mega Mall Batam.

4. Otak-Otak Ikan Tenggiri: Gorengan Asap Khas Tanjungpinang

Otak-otak di sini dibungkus daun pisang, dipanggang di atas bara arang, bukan digoreng. Adonannya dari daging ikan tenggiri giling, santan, telur, dan bumbu halus. Setelah matang, daun pisang dibuka, otak-otak dicocol saus kacang pedas atau cuka cabai.

Coba di Pasar Ikan Tanjungpinang, dekat dermaga. Satu bungkus isi 5 tusuk Rp 15.000. Penjual mulai membakar jam 3 sore. Teksturnya lembut di dalam, sedikit gosong di luar—persis yang dicari pembeli setia.

5. Laksam: Kuah Kental Ikan dengan Mi Pipih

Laksam berbeda dari laksa. Mi-nya lebar dan tipis, mirip kwetiau tapi lebih lunak. Kuahnya dari ikan tenggiri yang direbus, disaring, lalu dicampur santan dan kunyit. Hasilnya: kuah kental berwarna kuning pucat, rasa gurih dominan, sedikit asam dari asam gelugur.

Di Bintan, Laksam Bu Rohana di Jalan Pantai Trikora terkenal sejak 2015. Satu porsi Rp 20.000. Disajikan dengan sambal belacan, irisan bawang merah, dan perasan jeruk nipis. Makan siang di sambil lihat laut lepas—pengalaman yang tidak bisa ditiru di mall.

6. Sate Lilit Ikan: Daging Cincang Melilit Batang Serai

Sate lilit di Kepri memakai ikan tenggiri atau ikan kakap merah. Daging dicincang halus, dicampur kelapa parut muda, bumbu genep (bawang, kunyit, kencur, cabai), lalu dililitkan ke batang serai. Dibakar di atas bara kelapa.

Paling otentik di Warung Sate Lilit Pak Cek, Kampung Bugis, Tanjungpinang. Satu tusuk Rp 5.000, minimal pesan 10 tusuk. Buka jam 5 sore hingga habis. Aroma serai yang terbakar bercampur asap kelapa—itu signature-nya.

7. Ikan Asam Pedas: Rebusan Pedas Segar dari Laut Natuna

Ikan asam pedas khas Kepri tidak pakai belimbing wuluh, melainkan asam jawa dan cabai rawit utuh. Ikan yang dipakai biasanya ikan kerapu atau ikan ekor kuning. Kuahnya bening kemerahan, pedasnya menusuk langsung ke lidah, asamnya seimbang.

Di Natuna, coba Ikan Asam Pedas Bu Ros di Ranai. Satu porsi Rp 25.000—Rp 35.000. Buka jam 11 siang. Cocok dimakan dengan nasi putih hangat dan sambal terasi. Ini bukan makanan turis—ini keseharian warga pulau.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa beda Mie Tarempa dengan mi kari biasa?
Mie Tarempa pakai mi kuning segar buatan sendiri, bukan mi instan. Kuahnya kari kental berbasis santan dengan rempah utuh, bukan bubuk instan. Isiannya spesifik: udang kecil, tauge, dan telur rebus.

2. Di mana bisa makan gonggong di Batam?
Nagoya Food Street dan Pasar Projodadi adalah tempat paling mudah. Harga Rp 30.000—Rp 45.000 per porsi. Pastikan memilih penjual yang merebus gonggong dengan serai dan daun jeruk agar tidak amis.

3. Apakah nasi lemak Kepri sama dengan nasi lemak Malaysia?
Tidak. Nasi lemak Kepri memakai santan encer, sambalnya pakai cabai rawit merah utuh dan belacan, serta lauknya lebih sederhana: ikan bilis, telur rebus, timun. Tidak pakai ayam goreng atau rendang sebagai lauk utama.

4. Kapan waktu terbaik makan otak-otak di Tanjungpinang?
Sore hari sekitar jam 3-5. Penjual mulai membakar di Pasar Ikan Tanjungpinang. Otak-otak yang baru matang dari bara arang punya tekstur terbaik.

5. Apakah sate lilit di Kepri pakai daging babi?
Tidak. Sate lilit di Kepri selalu berbahan ikan tenggiri atau kakap merah. Halal dan cocok untuk semua. Batang serai digunakan sebagai tusuk, bukan sebagai bumbu tambahan.

Kepulauan Riau bukan sekadar destinasi pasir putih dan visa kunjungan. Dari Mie Tarempa yang sarat rempah hingga gonggong yang butuh teknik makan khusus, setiap hidangan menyimpan cerita laut dan akulturasi yang tidak bisa ditemukan di Sumatra Barat atau Jawa. Kalau Anda mampir ke Batam, Tanjungpinang, atau Natuna dalam waktu dekat, jadikan tujuh daftar ini sebagai panduan—bukan untuk pamer di media sosial, tapi untuk benar-benar merasakan apa yang dimakan warga lokal setiap hari.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks