TANJUNGPINANG — Hipertensi yang kerap disebut silent killer menjadi perhatian serius Program Studi DIII Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang. Melalui pengabdian masyarakat bertajuk "Pemberdayaan Masyarakat terhadap Pencegahan, Deteksi Dini dan Pengendalian Hipertensi", institusi pendidikan ini berkolaborasi dengan Puskesmas Tanjungpinang Barat untuk membentengi warga dari risiko stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.
Ketua tim pengabdian, Ns. Muthia Deliana, S.Kep., M.Kep, menyebut pemberdayaan ini merupakan investasi jangka panjang. Masyarakat tidak hanya diberi pemahaman, tetapi juga didorong menjadi pelaku utama dalam menjaga kesehatan mereka secara mandiri.
Rangkaian kegiatan diawali pada 9 Juli 2026 dengan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Warga yang hadir menjalani pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, serta pemeriksaan kadar gula darah dan kolesterol.
Tim juga melakukan identifikasi faktor risiko dan pengkajian riwayat kesehatan peserta. Langkah ini bertujuan membantu masyarakat mengenali kondisi tubuhnya sedini mungkin sebelum penyakit berkembang lebih parah.
Kegiatan ini dihadiri langsung Kepala Puskesmas Tanjungpinang Barat, drg. Harry Prima Sukarni, Penanggung Jawab Program PTM Ns. Syefriawan, S.Kep, serta Kader Kesehatan Ibu Siti Juariyah. Sinergi antara institusi pendidikan dan layanan kesehatan ini menjadi kunci penguatan derajat kesehatan masyarakat.
Setelah pemeriksaan, tim memberikan edukasi komprehensif mengenai hipertensi. Materi mencakup penyebab, faktor risiko, tanda gejala, hingga komplikasi yang mengintai jika tekanan darah tidak terkontrol.
Warga diajak memahami pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang, pembatasan asupan garam, aktivitas fisik teratur, pengelolaan stres, dan penghentian kebiasaan merokok. Kepatuhan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala juga ditekankan sebagai bagian dari pengendalian penyakit.
Pendekatan partisipatif diterapkan dengan membuka ruang diskusi dan tanya jawab. Warga saling berbagi pengalaman terkait upaya menjaga tekanan darah tetap stabil, sehingga kesadaran tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa pengendalian hipertensi dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari.
Tahapan kedua pada 18 Juli 2026 berfokus pada penekanan keterampilan. Tim mendemonstrasikan pembuatan Jus Timun dan Madu yang dikenal membantu menurunkan tekanan darah secara alami.
Tidak berhenti di situ, warga juga diperkenalkan dengan terapi auditori berupa murotal Al Qur'an dan Gurindam 12. Terapi relaksasi ini diyakini mampu menurunkan stres, salah satu pemicu utama lonjakan tekanan darah.
Ns. Muthia Deliana menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan strategi pemberdayaan masyarakat di Posyandu Kasih Ibu. "Kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta menerapkan perilaku hidup sehat secara mandiri," ujarnya.
Program ini juga memperkuat peran kader kesehatan sebagai mitra strategis Puskesmas Tanjungpinang Barat. Para kader akan menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi, pemantauan, dan pendampingan kepada warga yang memiliki risiko maupun yang sudah hidup dengan hipertensi.
Melalui kolaborasi berkesinambungan antara perguruan tinggi, puskesmas, kader, dan masyarakat, diharapkan tercipta lingkungan yang sadar akan pentingnya pencegahan penyakit tidak menular. Target akhirnya adalah terbangunnya masyarakat Tanjungpinang Barat yang sehat, mandiri, dan berkualitas.
Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.