NATUNA — Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna H. Boy Wijanarko memimpin langsung apel kesiapsiagaan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Alun-Alun Pantai Piwang, Kecamatan Bunguran Timur, Jumat (28/8/2026). Kegiatan ini dihadiri jajaran forkopimda, mulai dari Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie, Dandim 0318/Natuna Kolonel Inf Ruruh Sejati, hingga perwakilan Danlanud RSA dan Danyon Arhanud 14 Pasgat.
Dalam apel tersebut, dilakukan pemeriksaan kesiapan personel serta kelayakan peralatan pemadam. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan seluruh unsur mampu merespons cepat potensi kebakaran yang kerap muncul saat musim kemarau.
Boy Wijanarko dalam amanatnya menekankan bahwa pencegahan harus menjadi garda terdepan. Ia meminta penguatan koordinasi antarinstansi dan memastikan sarana prasarana selalu dalam kondisi siap pakai.
"Langkah pencegahan, deteksi dini, patroli, dan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami karhutla harus diperkuat," tegas Boy di hadapan peserta apel.
Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie menegaskan komitmen jajarannya untuk bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, peran aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah meluasnya kebakaran.
Ia mengimbau warga agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan metode membakar. Kebiasaan tersebut dinilai menjadi pemicu utama karhutla yang dampaknya bisa meluas hingga mengganggu aktivitas penerbangan dan kesehatan.
"Polres Natuna bersama TNI, Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder siap bersinergi dalam mencegah dan menangani karhutla. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat menimbulkan kebakaran lebih luas," ujar Novyan.
Apel ini turut dihadiri sejumlah kepala dinas dan pejabat terkait, seperti Kepala BMKG Natuna Rafael Alesandro Marbun, Kalaksa BPBD Natuna Raja Darmika, serta Kadis DKPP Wan Syazali. Unsur Basarnas, Damkar, Dishub, dan Satpol PP juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Kesiapsiagaan ini menjadi langkah antisipasi dini mengingat kondisi geografis Natuna yang memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang rentan terbakar. Dengan kesiapan personel dan peralatan yang matang, diharapkan potensi karhutla dapat ditekan seminimal mungkin sepanjang tahun 2026.