KEPULAUAN RIAU — Kebutuhan kamera jernih di kelas Rp1,5–2 jutaan memang paling ramai pembelinya, dan Agustus 2026 jadi titik persaingan yang menarik. Dari dua kandidat yang sempat kami pegang singkat—Poco M6 dan Samsung Galaxy A07—terlihat dua strategi berbeda dalam meracik kamera ponsel murah. Artikel ini bukan review penuh, melainkan kesan awal dari penggunaan terbatas, karena unit yang kami terima belum final dan beberapa spesifikasi Galaxy A07 belum diumumkan resmi.
Poco M6, yang di beberapa pasar dikenal sebagai Redmi 13, adalah contoh paling jelas bagaimana vendor menonjolkan kamera sebagai senjata utama. Modul utamanya 108 MP dengan dukungan in-sensor zoom, fitur yang biasanya baru ada di kelas menengah. Dalam uji sebentar di kondisi outdoor, hasil foto memang tajam, detail tekstur bangunan dan daun terlihat lebih banyak ketimbang pesaing segmen Rp1,2–1,5 juta.
Tapi yang menarik bukan cuma Megapixel-nya. In-sensor zoom pada 108 MP dapat melakukan perbesaran 2x dan 3x cropped tanpa interpolasi, karena resolusi tinggi menyediakan jarak yang cukup. Saat kami pangkas area kecil dari foto 108 MP, detail tetap terjaga hingga ukuran cetak A5. Ini menjadi nilai jual utama Poco M6—jarang kita lihat fleksibilitas framing di kelas harga ini.
Di sinilah kelemahan kelas harga ini terasa. Sensor besar tidak otomatis menghasilkan performa cahaya rendah baik karena butuh pemrosesan yang serius. Pada Poco M6, mode malam menahan shutter lama untuk mengumpulkan cahaya, tapi lagi-lagi hasilnya masih memiliki noise cukup banyak dan detail halus seperti rambut atau tekstur gelap mulai lebur. Harapan terbaik untuk foto malam adalah penggunaan tripod dan objek diam, bukan hunting foto jalanan santai.
Memori internal juga perlu diperhitungkan. Foto 108 MP akan cepat menghabiskan penyimpanan—jika Anda tidak aktif membersihkan galeri, satu sesi foto liburan bisa membuat media penuh. Jarang ada slot ekspansi yang bisa menampung ratusan file besar, jadi pastikan kapasitas penyimpanannya memadai.
Sayangnya detail resmi Galaxy A07 belum terbuka luas. Yang kami ketahui baru sekadar resolusi kamera utamanya 108 MP—sama dengan Poco M6—dan harga yang diposisikan di bawah Rp2 juta. Tapi tanpa harga pasti, chipset, dan kualitas pemrosesan, sulit menyimpulkan apakah A07 bisa menandingi kualitas foto Poco M6.
Yang perlu diingat, Samsung punya reputasi kuat di sektor kamera smartphone secara umum. Namun di kelas entry-level, tiap merek harus memilih kompromi antara sensor dan prosesor. Jika A07 memakai chipset yang lebih lama atau ISP (image signal processor) kelas bawah, hasil 108 MP-nya bisa jauh dari harapan. Nantikan pengujian lebih lanjut saat unit final tersedia—kami akan mengukur secara langsung.
Memiliki sensor 108 MP juga menuntut kerja keras dari prosesor saat memproses file besar. Pada sesi pengambilan 30 foto beruntun di Poco M6, punggung ponsel menghangat signifikan dan shutter sempat melambat. Untuk pemakaian harian ringan ini tidak masalah, tapi untuk kreator konten yang sering spot-ngebut, efek ini cukup terasa.
Ini bukan temuan final—hanya kesan awal—tapi cukup untuk mengingatkan bahwa spesifikasi kamera menjulang tidak menjamin pengalaman fotografi yang konsisten. Yang lebih penting adalah kesesuaian dengan kebutuhan: apakah foto siang hari lebih sering dibidik, atau malam hari bagian dari rutinitas.
Poco M6 saat ini adalah pilihan kuat untuk fotografi siang hari dengan bujet terbatas, asalkan Anda siap menerima hasil malam yang biasa-biasa saja dan boros storage. Galaxy A07 masih tanda tanya besar—meski namanya cukup dikenal, spesifikasi dan harganya belum final untuk direkomendasikan.
Belum ada pemenang mutlak di kelas ini. Yang terbaik tergantung skala prioritas: kualitas foto siang atau fleksibilitas RAM/penyimpanan. Di harga Rp1,6 juta, kita tidak bisa mendapat keduanya sekaligus. Kami akan kembali dengan pengujian lengkap setelah kedua unit memasuki masa produksi final.