KEPULAUAN RIAU — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Agustus 2026 sebesar 3,19 persen, naik dari 2,88 persen pada Juli. Angka ini lebih tinggi dari konsensus pasar yang memperkirakan inflasi di level 3,12 persen. Secara bulanan, IHK mencatat inflasi 0,21 persen, berbalik dari deflasi 0,14 persen pada bulan sebelumnya dan sedikit di atas perkiraan 0,20 persen.
Kenaikan harga bulanan terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,17 percentage point. Daging ayam ras, cabai rawit, ikan, dan beras menjadi komoditas pendorong utama. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menyumbang 0,03 percentage point, dipicu kenaikan harga emas perhiasan.
Yang perlu menjadi perhatian adalah inflasi inti yang juga menunjukkan akselerasi. Pada Agustus, inflasi inti tercatat 2,92 persen secara tahunan, meningkat dari 2,76 persen pada Juli dan lebih tinggi dari konsensus 2,86 persen. Angka ini mengindikasikan tekanan harga di luar komponen volatil ikut naik, bukan sekadar gejolak musiman harga pangan.
Meski inflasi 3,19 persen masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, posisinya kini sudah berada di atas titik tengah target. Ruang pelonggaran moneter semakin terbatas apabila tren kenaikan ini berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus USD0,12 miliar pada Juli 2026, setelah mengalami defisit pada dua bulan sebelumnya. Capaian ini memang lebih baik dari perkiraan konsensus yang memproyeksikan posisi impas. Namun, angka tersebut jauh tertinggal dibanding surplus Juli 2025 yang mencapai USD4,18 miliar.
Secara kumulatif, surplus perdagangan selama tujuh bulan pertama 2026 anjlok ke USD3,7 miliar, dibandingkan USD23,77 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Artinya, surplus kumulatif telah menyusut sekitar USD20,07 miliar dalam setahun terakhir.
Penyebab utamanya adalah disparitas laju pertumbuhan ekspor dan impor. Ekspor tumbuh 6,05 persen secara tahunan pada Juli, melambat dari 8,84 persen pada Juni. Sementara impor melesat 27,02 persen secara tahunan, meski sedikit melambat dari 34,27 persen bulan sebelumnya. Pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat menggerus kontribusi perdagangan bersih terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kombinasi data Juli dan Agustus ini menempatkan otoritas ekonomi pada posisi yang tidak mudah. Surplus perdagangan yang menipis berarti sektor eksternal tidak lagi menjadi penopang kuat pertumbuhan seperti tahun sebelumnya. Di saat yang sama, inflasi yang merangkak naik membatasi fleksibilitas bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter bila diperlukan.
Tingginya impor sebenarnya tidak selalu menjadi sinyal negatif—ia bisa mencerminkan kebutuhan bahan baku dan barang modal yang meningkat. Namun, ketika berlangsung jauh lebih cepat daripada ekspor, dampaknya terhadap keseimbangan eksternal menjadi nyata. Data kumulatif yang menyusut tajam adalah pengingat bahwa ketahanan eksternal Indonesia sedang diuji.
Ke depan, arah perekonomian akan sangat bergantung pada pergerakan harga pangan, permintaan domestik, nilai tukar, serta laju ekspor-impor. Selama inflasi masih bertahan di atas titik tengah target dan surplus perdagangan tetap tipis, ruang manuver kebijakan ekonomi akan terus menyempit.
Investasi mengandung risiko.